Tuesday, March 2, 2021

Tipografi Dalam Menulis

 

Oleh Nuraini Ahwan

Semakin banyak jejaring pertemanan yang kita miliki semakin banyak pelajaran yang bisa kita petik.Semakin banyak teman berdiskusi semakin luas pula wawasan dan cakrawala berpikir kita. Semakin banyak kita belajar, kita akan menyadari ternyata banyak hal yang memang belum kita ketahui dan menyadari semakin penting artinya belajar. Seperti itulah yang saya rasakan pada diri yang masih fakir ilmu ini.

Saya tulis di sini  tentang sebuah istilah untuk masalah yang  saya alami dan mungkin juga anda sering mengalainya  yakni tipografi,

 

Kesalahan tipografi, galat tipografi atau saltik ( dalam bahasa Inggris disingkat typo) adalah kesalahan yang dibuat pada proses mengetik (Wikipedia). Typo sering dialami oleh siapa saja. Typo akan menimbulkan perbedaan arti atau makna bahkan kata menjadi tak bermakna. Salah satu contoh typo , kata "makna diketik makana" . Kelebihan huruf a di antara huruf "k" dengan huruf "n"

Apa arti kata makana?

Tidak ada kan?

Atau mau mengetik "makanannya" yang terketik adalah kata "makananya" kurang satu huruf yakni kurang huruf "n" diantara huruf "n" dengan huruf "y"

Banyak lagi contoh adanya typo dalam menulis.Bisa jadi dalam tulisan yang sedang anda baca ini  anda jumpai adanya typo. Silahkan dicermati.

 

Pengalaman saya sendiri, typo sering terjadi ketika saya mengetik di handphone.  Lain yang saya ketik, lain pula tulisan yang muncul. Lain huruf yang saya ketik lain pula huruf yang muncul. Sampai berkali-kali bahkan kadang tak teredit keburu dishare ke orang lain.

 

Istilah tipografi itu sendiri mencakup kegagalan mekanis karena slip jari tangan, bukan karena ketidaktahuan penulis  seperti ejaan tetapi karena jari yang menekan dua tombol yang berdekatan secara bersamaan. Artinya tipografi bukan karena kesengajaan. Kesalahan ketik ini tidak dapat dideteksi oleh aplikasi pengecek ejaan (spelling checker. Wikipedia.org)


Ada pengalaman lucu ketika saya chat dengan seorang teman. Karena typo inilah maka teman yang menerima chat bertanya kepada saya dengan menelpon balik. Ia minta dijelaskan maksud chat saya waktu itu. Maklum agak sedikit menyinggung.

Mau menyalahkan handphone tidak mungkin. Menyalahkan jari tangan dengan mengatakan jari tangan terlalu besar juga dekat dengan tidak mensyukuri pemberian Allah SWT.

 

Typo tidak hanya terjadi ketika mengetik di handphone, mengetik di latop saja typo sering terjadi. Bukan karena baru bisa mengetik dengan satu dua jari  bahkan yang sudah mampu mengetik dengan sebelas jari pun, typo bisa terjadi.  Karena mahirnya mengetik, pandangan mata tak melihat huruf, mengetiknya sangat cepat, typo pun terjadi.

 

Penyebab lain dari typo adalah kurang mengetahui tentang kata baku dan tidak baku. Sehingga begitu memilih dan mengetik kata tertentu tidak menutup kemungkinan terjadinya typo.

Oleh karena itu, berhati-hati dan hindarilah typo. Cara agar terhindar dari typo adalah dengan membaca ulang tulisan yang sudah dibuat, diedit, buka KBBI atau PUEBI lalu setelah yakin tidak ada typo barulah dishare atau dipublish.


Bisa jadi juga dalam tulisan ini ada typo, cobalah mengecek atau meneliti satu persatu kata-kata yang terangkai menjadi kalimat ini.

 

Lombok, 2 Maret 2021

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Monday, March 1, 2021

Pejuang Deadline

Oleh Nuraini Ahwan

"Kapan batas waktunya?"

Pernahkan anda mendengar pertanyaan ini?
Jika pernah? Kapan?
Dalam hal apa pertanyaan ini diajukan atau disampaikan. Lalu ketika sudah diberikan jawaban, apa yang terpikir oleh anda?
Silahkan anda menjawab sendiri!

Dalam tulisan ini saya ingin berbagi tentang apa yang terpikir oleh saya ketika jawaban atas semua pertanyaan itu telah saya dapatkan. Saya termasuk salah satu yang sering bertanya dengan kalimat itu. "Kapan batas waktunya?"

Kalau boleh saya mengelompokkan orang-orang semacam ini pada kelompok pejuang deadline. Walaupun tidak selalu berada dalam kelompok ini, tetapi paling tidak sering melakukannya karena banyaknya pekerjaan yang membutuhkan penyelesaian segera juga.

Pejuang deadline juga sekelompok dengan the power of kepepet dan SKS atau sistem kebut semalam atau seminggu. Ketiga istilah memacu adrenalin untuk berani lembur, berani duduk dari pagi sampai siang bahkan berani berada di depan layar handphone atau lattop seharian. Kadang sampai melupakan hak tubuh untuk olahraga, hak mata untuk tidur dan hak perut untuk diisi.

Pejuang deadline , dari tidak bisa menjadi bisa. Dari tidak mampu menjadi mampu. Timbulnya kekuatan diri dan percaya diri.

Harus diingat juga bagi pejuang deadline yakni diri saya sendiri bahwa menunda pekerjaan sebenarnya tidak baik. Disiplin dan scudule harus dilaksanakan agar tidak selalu menunggu batas akhir.

Satu contoh menjadi pengingat diri.
Permintaan data kantor dengan batas waktu yang sudah ditetapkan. Awal-awal kita santai tidak segera menyerahkan karena menunggu batas akhir. Ketika mengumpulkan pada batas akhir, apabila ada kesalahan maka yang rugi adalah diri sendiri. Kapan kesempatan untuk perbaikan?

Jadi bagi para pejuang deadline, lebih awal lebih baik.

Lombok, 1 Maret 2021

Friday, February 26, 2021

Kembali Work From Home

 Oleh Nuraini Ahwan

Pandemi covid 19 belum juga berakhir hingga memasuki bulan Maret 2021. Menunggu sebentar lagi menjadi ingat saat pertama kali pembelajaran jarak jauh dilaksanakan. Tanggal 18 Maret 2020 merupakan awal pelaksanaan PJJ. 

Berharap Maret 2021 ini pelaksanaan pembelajaran bisa dengan pola tatap muka. Harapan itu rupanya hanya tinggal harapan.

Edaran baru saja diterima dari pejabat berwenang tentang sistem kerja aparatur sipil negara di wilayah kami. Terhitung tanggal 3 sampai 28 Februari 2021 sistem kerja ASN dengan sistem WFH. Edaran berikutnya terhitung tanggal 1 Maret 2021 pelaksanaan kerja ASN di wilayah kami menjadi WFO atau Work From Office. Corona benar-benar membuat tenaga pendidik harus mampu menyesuaikan diri dengan semua sistem kerja yang tidak menentu ini.

Pembelajaran tetap dilaksanakan dengan pola dalam jaringan, luar jaringan atau kombinasi keduanya. Kurun waktu satu tahun ini bukan hitungan waktu yang singkat untuk memetik pembelajaran tentang bagaimana pola pembelajaran yang menarik untuk siswa. Bagaimana merancang pola pembelajaran baik daring , luring atau kombinasi keduanya yang menarik. Terutama pembelajaran daring yang bersentuhan langsung dengan teknologi informasi dan dunia internet.

Saya menjadi tersentuh dan merefleksi diri setelah sekian lama pembelajaran dilaksanakan dengan pola jarak jauh. Ditambah lagi dengan pendapat seorang penulis buku best seller yang senada dengan yang saya pikirkan juga. "Jika dalam satu tahun ini pembelajaran pada masa pandemi ini, masih begitu-begitu saja, maka ini artinya kita tak memperoleh apa-apa"

Pernyataan di atas kalau boleh secara pribadi saya terjemahkan berdasarkan pengamatan di lapangan bahwa yang dimaksud kita tak memperoleh apa apa adalah tak memperoleh tambahan pengetahuan terutama terkait dengan  pembelajaran yang menggunakan pola daring atau online. Strategi pembelajaran masih menggunakan cara monoton seperti memanfaatkan  aplikasi whatsaap saja. Banyak aplikasi pembelajaran online yang tersedia tetapi enggan mempelajarinya. Contoh ini hanya sebagian dari keengganan guru sehingga belajar daringnya begitu begitu saja dalam satu tahun ini.

Atau seberapa banyak aplikasi atau model pembelajaran yang sudah kita bisa terapkan pada saat pembelajaran pola daring (online) ini?

Masih ada kesempatan belajar karena pola PJJ ini masih belum pasti berakhirnya. Kita tetap berharap pandemi segera ada akhirnya. Sistem kerja ASN termasuk guru bulan Maret khususnya di wilayah kami menggunakan WFO dengan pola pembelajaran masih menggunakan daring, luring atau kombinasi antara keduanya.

Memanfaatkan sistem kerja WFO dengan memperbanyak kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan diri untuk terus mencoba dan berkarya.  Kegiatan peningkatan kemampuan ini banyak tersedia melalui pertemuan online dengan memanfaatkan zoom cloud metting misalnya. Bertemu dengan para pakar, diskusi dengan teman sejawat dan akan lebih seru lagi jika pelaksanaannya di tempat kerja atau kantor, sekolah pada jam kerja.

Bagaimana perasaan ketika mendengar tentang WFO?

Tentu saja senang karena bisa  bertemu teman semuanya,  sekolah atau tempat kerja menjadi ramai tidak seperti WFH yang menghadirkan 3 guru setiap hari.  Selanjutnya bagaimana membuat WFO ini menjadi berarti, baik bagi guru maupun siswa.

Mari menjadikan  pandemi ini ibarat kita jatuh di lumpur, tetapi begitu bangkit kita membawa ikan. Jadi guru yang terus berinovasi tiada henti.

Lombok, 26 Februari 2021

Thursday, February 25, 2021

Hambatan dalam Menulis

Oleh Nuraini Ahwan

Hambatan dalam menulis banyak sekali. Hambatan ini menjadi alasan untuk tidak menulis. Hambatan ini banyak diungkapkan oleh orang yang belum pernah merasakan bagaimana menulis itu. Tidak bagi para penulis. Para penulis dengan entengnya mengatakan menulis itu mudah. 

Bahkan ada penulis mengatakan bahwa menulis itu semudah membuat telur ceplok (menurut ibu Lilis). Membuat telur ceplok siapa pun bisa. Anak-anak kecil juga bisa membuat telur ceplok. Seperti itulah penulis yang sudah andal mengumpamakan mudahnya menulis.

Apa saja hambatan yang diungkapkan oleh orang yang tak pernah menulis?
‌1. Susah memulai
‌2. Tidak tahu apa yang harus ditulis
‌3. Kalau menulis kata-katanya itu-itu saja
      4. Sulit mendapatkan kata-kata
      5. Malu kalau tulisannya dibaca orang
      6. Tidak ada waktu, tidak sempat.

Bagi penulis pemula seperti saya misalnya, hambatan-hambatan itu ada benarnya tetapi tak sedikit salahnya. Mengapa?

Mari coba kita memberikan beberapa alasan mengapa membenarkan hambatan yang diungkapkan oleh orang yang belum pernah menulis. Mengapa juga penulis andal membantahnya.

Susah memulai, kata-katanya itu-itu saja, sulit mendapatkan kata-kata, merupakan alasan yang bisa jadi ya, karena mereka tidak banyak membaca atau bahkan tidak pernah mencoba menulis. Berbicara atau bercerita mereka lancar tanpa hambatan. Jika diminta menulis apa yang diceritakan, maka jawabannya sulit atau tidak bisa.

Tidak tahu mau menulis apa, merupakan hambatan yang tidak bisa dibenarkan karena bahan tulisan sangat banyak terbentang di alam. Seluruh yang kita lihat, dengar, rasakan, dan lakukan bisa menjadi bahan tulisan. Hanya saja ide mungkin yang belum bisa mereka gali.

Hambatan berikutnya adalah malu tulisan dibaca orang. Jika ini alasannya maka seseorang tidak akan menulis. Padahal kalau sudah menulis dan dishare atau dibaca orang tidak ada komentar negatif tentang tulisan kita. Atau jika ada komentar negatif maka itu menjadi bahan perbaikan bagi tulisan kita berikutnya. Komentar yang mengandung perbaikan justru akan membuat kita belajar menjadi editor sendiri buat tulisan sendiri sebelum dishare ke orang lain.

Lalu hambatan berikutnya , tidak ada waktu. Saya menjadi ingat buku karya Bapak Much. Khoiri yang berjudul SOS atau Sopo Ora Sibuk? Siapa tidak sibuk. Kalau tidak salah artinya seperti itu karena saya bukan dari jawa. Kalau menunggu waktu khusus untuk menulis maka banyak orang tidak punya waktu. Menulis tidak membutuhkan waktu khusus tetapi menulis bisa di sela-sela kesibukan.

Bagi orang yang sudah mulai merambah dunia tulis menulis apalagi sudah masuk pada kategori penulis andal, mereka bisa mengatasi segala macam hambatan.  Jika susah memulai maka menulis bisa dimulai dari hal-hal yang paling disukai. Jika ide sulit dicari, maka penulis juga tentu sudah punya balon tulisan atau bakal calon tulisan. Balon tulisan ini biasanya disimpan di notebook atau catatan di handphone. Biasa juga di tulis di writer plus dengan free writingnya.

Sulitkah mendapatkan kata-kata atau kata-katanya itu-itu saja? Jawabannya tidak bagi penulis karena perbendaharaan kata akan semakin kaya jika gemar membaca. Penulis adalah pembaca juga. Dosen IAIN Tulungagung, Bapak Ngainun Naim, mengatakan dengan kalimat indahnya, "Membacalah agar mampu merangkai kata."
Jadi jika merasa kekurangan kata-kata maka perbanyaklah membaca.

Merasa tidak ada waktu, maka dapat dibantah dengan mengatakan bahwa menulis tidak membutuhkan waktu khusus. Menulis bisa di sela-sela kesibukan. Misalnya jika sudah penat di depan lattop mengerjakan tugas maka bisa membuka balon tulisan yang ada di handphone. Tulis sedapatnya saja tidak harus selesai. Terpenting adalah komitmen untuk.menulis.

Hambatan-hambatan yang ditulis di atas semuanya bisa diatasi. Cara mengatasinya beragam. Bangun minat membaca dan tingkatkan daya baca. Baca cathing di whatsaap ya, baca buku mengapa tidak? Terpenting adalah ada kemauan untuk menulis, pegang komitmen dan perkuat konsistensi.

Lalu GILA, (Gali Ide Langsung Action)

Lombok, 25 Februari 2021

Wednesday, February 24, 2021

Tulisan dalam Blog Menjadi Buku

 Oleh Nuraini Ahwan

"Selamat pagi. Apa yang dapat saya lakukan dengan blog ini. Bila saya diizinkan untuk boleh "obrak-abrik" isinya agar dapat mengambil artikel yang perlu."

Siapa yang  tidak kaget dengan kalimat di atas?
Kalimat ini saya baca di whatsaap. Chating dari salah seorang teman. Kaget? Tentu saja, ya! Bagaimana tidak kaget membaca kalimat yang di dalamnya ada kata-kata obrak-abrik?

Saya berpikir, apa yang salah dengan tulisan saya dalam blog.  Kekagetan saya reda ketika membaca lanjutan kalimatnya. Ada kalimat yang menyatakan akan mengambil artikel yang perlu.

Chating itu berasal dari salah seorang teman yang sudah banyak malang melintang di dunia kepenulisan. Pernah menjadi penilai lomba blog yang diadakan oleh PGRI.  Saat itu saya adalah salah satu peserta. Hasil penilaian tim menempatkan saya pada urutan ke-4 dari 10 besar terpilih.  Peserta lomba mencapai ratusan orang. Rupanya beliau mengirim pesan lewat whatsaap yang membuat saya kaget beberapa saat.

Harusnya saya tidak kaget karena sebelumnya telah ada diskusi bersama. Beliau mengajak kolaborasi untuk menerbitkan buku dari tulisan-tulisan saya di blog. Memilah dan memilih artikel terbaik lalu digabung dengan tulisan beliau. Ajakan itu saya sanggupi karena merasa beruntung bisa menerbitkan buku bersama penulis hebat.  Di samping itu, ajakan ini merupakan kepercayaan besar bagi saya. Ini juga sebenarnya yang menjadi awal kekagetan saya. Kaget bercampur perasaan senang dan tersanjung mendapat tawaran atau ajakan dari seorang penulis hebat Heronimus Bani. Penulis asal negeri di belahan timur Indonesia, Nusa Tenggara Timur.

Beliau sering blogwalking ke blog saya sehingga beliau mengetahui bagaimana tulisan saya di blog. Memberikan apresiasi positif lalu mengajak kolaborasi dalam satu buku.  Membayangkan jika buku terbit dari dua daerah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur akan menjadi menarik.

Kalimat pada pembuka tulisan ini rupanya maksud baik dari Bapak Heronimus Bani. Saya yang menyanggupi kolaborasi tak jua memilah dan memilih artikel yang akan disatukan dengan tulisan beliau. Gerakan saya lambat oleh berbagai sebab. Blog pun tidak saya kunjungi dalam beberapa hari. Khabar pun tidak saya berikan kepada Bapak Roni. Hingga akhirnya beliau mengirim kalimat yang membuat saya berdebar dan memacu detak jantung saya.

Diskusi lewat whatsaap pun kami lanjutkan. Saya menyetujui usulan Pak Roni untuk memilih sendiri artikel yang perlu menurut beliau. Saya serahkan semua mulai dari pemilihan tulisan, editing, dan lain-lain terkait dengan penerbitan buku kolaborasi kami.

Semoga buku bersama Bapak Heronimus Bani segera terbit dan bernilai manfaat untuk kami, diri sendiri dan orang lain.

Lombok, 24 Februari 2021

Kolaborasi dalam Menulis

 

Oleh Nuraini Ahwan

Menjadi anggota komunitas menulis di berbagai nama grup membuat jejaring pertemanan semakin banyak. Semakin banyak teman semakin luas cakrawala berpikir, berdiskusi, berbagi dan berkolaborasi. Percaya atau tidak tentang pernyataan ini,  tentu saja membutuhkan sedikit pembuktian.

Kolaborasi yang diperoleh dari pertemanan lewat whatsaap grup menulis tentu menjadi bukti bertambah luasnya cakrawala atau jangkauan pandangan kita .Kolaborasi yang merupakan kerjasama dengan seseorang atau orang lain untuk suatu perbuatan atau pekerjaan.  Kolaborasi yang menghasilkan karya sungguh luar biasa. Kolaborasi juga menggungah nyali seorang penulis pemula. Dari tidak memiliki percaya diri sampai pada munculnya semangat tinggi untuk menulis.

Lahirnya buku antologi dengan berbagai genre tulisan membuktikan bahwa jejaring ini membangun kolaborasi yang solid di antara seluruh anggota grup. Lahirnya buku antologi ini pula yang menambah imun penulis pemula untuk terus dan terus menulis sampai kepada keberanian merambah dunia blog. Menyimpan tulisan dalam blog yang sewaktu- waktu bisa dibuka.

Blog yang dibaca oleh orang lain, dikomentari selalu positif. Mungkin maksudnya agar para penulis terus berkarya lewat tulisan.  Bisa jadi juga ada pembaca tertarik pada tulisan kita atau memotivasi kita. Itu merupakan bonus bagi kita. Tetapi jika tidak, atau tak ada yang membaca, biarkan saja karena tidak ada ruginya juga buat penulis atau pengisi blog.

Ketertarikan seseorang pada tulisan kita  berdampak pada adanya ajakan kolaborasi untuk menghimpun tulisan dalam blog. Selanjutnya diterbitkan  menjadi buku agar mempunyai nilai manfaat. Bermanfaat bagi penulis sendiri dan bermanfaat untuk pembaca yang lebih banyak lagi.

Lombok, 24 Februari 2021

Tuesday, February 23, 2021

Bertanggung Jawab Terhadap Tanggung Jawab

 

Oleh Nuraini Ahwan.

Hari ini, melangkah dari rumah dengan mengucap Bismlillah,  mengharap apa yang dilakukan mendapat Ridha Allah SWT.  Setumpuk agenda hari ini merupakan bagian dari tanggung jawab terhadap tugas yang sudah menjadi pilihan diri. Jadi, sebelum berangkat, agenda ini sudah disusun sebagai rencana pelaksanaan tugas, secara bertanggung jawab.

Kata bertanggung jawab berasal dari kata tanggung jawab. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, yang diunggah oleh  jagokata.com..kata tanggung jawab mempunyai makna menanggung segala sesuatunya, kalau terjadi apa-apa bisa dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dan lain sebagainya. Tanggung jawab fungsinya menerima pembebanan sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain.

Bertanggung jawab sendiri dalam kamus besar bahasa Indonesia yang diunggah juga oleh  jagokata.com, mempunyai makna berkewajiban menanggung, memikul segala sesuatunya kepada (pemberi tanggung jawab) dan mempertanggungjawabkan atau memberi jawaban atas tanggung jawab yang diemban.

Bagaimana seorang melaksanakan tanggung jawab kembali kepada pridadi, kesadaran diri dan komitmen diri masing-masing. Sehingga kita bisa melihat bagaimana bertanggung jawabnya orang yang satu dengan yang lainnya terhadap tanggung jawab yang sudah ada di pundak masing-masing.

Menurut pengamatan (di seputaran tempat kerja),  bagaimana bertanggung jawabnya seseorang terhadap tugasnya memegang peranan penting yang namanya pembiasaan. Jika diri terbiasa dengan pelaksanaan tugas semau diri sendiri tidak berpegang pada aturan, tata tertib atau cendrung bekerja tidak sesuai aturan atau menyimpang meskipun sedikit, maka itu akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan seperti inilah yang akan menyebabkan kurang bertanggung jawabnya seseorang terhadap tanggung jawabnya. *Apalagi jika seseorang selalu membenarkan kebiasaan, tidak membiasakan kebenaran, maka yang akan terjadi adalah kurang bertanggung jawab terhadap tanggung jawab, karena belum tentu kebiasaannya itu benar.*

Contoh kecil saja, jika seorang guru terbiasa datang terlambat, lalu pimpinan nmembiakan ini berlama-lama sampai akhirnya guru tersebut merasa ia tidak salah bahkan merasa kebiasaannya datang terlambat itu merupakan hal yang benar. Pada saat pergantian pimpinan, zona nyamannya itu diusik maka pada diri guru tersebut akan terjadi gesekan bahkan mungkin tidak suka pada pimpinannya itu

Seseorang yang diberi tanggung jawab tentunya sudah dipandang mampu untuk melaksanakan tanggung jawab itu.Tanggung jawab yang timbul akibat sikap pihak sendiri tentu yang bersangkutan sudah yakin bahwa dirinya mampu melaksanakan tanggung jawab itu. Tetapi jika penilaian kemampuan ini dari pihak lain, maka si penerima tanggung jawab itu harus benar-benar bekerja keras

Mari kita berefleksi terhadap kerja kita dan kerja orang-orang di sekitar kita. Kita ambil saja contoh di sebuah sekolah sebagai bentuk pengingat diri.  Sudah ada pembagian tugas ssesuai dengan bidang yang diampu, namun masih juga tidak bisa terlaksana sesuai harapan. Sikap diri, komitmen diri seseorang yang lupa pada tugas atau tanggung jawabnya. Harus diingatkan lagi, harus disuruh lagi bahkan melempar tanggung jawab pada orang lain. Guru bertugas mengajar dan mendidik, siswa bertugas belajar, penjaga sekolah dengan tugasnya sendiri. Akankah satu sama lain saling berganti tugas seperti guru menggantikan tugas penjaga sekolah atau menggantikan tugas siswa. Adakah kepala sekolah menggantikan tugas siswa, tugas penjaga sekolah , tugas guru atau sebaliknya sepenuhnya. Ini tentu tidak tepat karena masing-masing punya tugas pokoknya sendiri. 

Adakah yang demikian di sekitar kita atau di tempat kita bekerja?

Tindakan atau sikap yang semacam itulah yang mencurangi kalimat bertanggung jawab terhadap tanggung jawab.

Hari ini pula dengan Bismillah melaksanakan tugas di dua tempat dengan berusaha sebaik mungkin. Tempat yang satu adalah tugas utama sedangkan tempat kedua sebagai pelaksana tugas. Namun tugas utama maupun sebagai pelaksana tugas, sama-sama merupakan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan. Berusaha berkerja sebaik mungkin merupakan bentuk  usaha bertanggung jawab terhadap tanggung jawab sehingga kelak bisa mempertanggungjawabkan kepada pemberi tanggung jawab dengan baik pula.

Lombok, 23 Februari 2021

Kegiatan Akhir Tahun di SDN 1 Dasan Tereng

Beragam kegiatan yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan untuk mengakhiri masa pembelajaran setiap tahunnya. Kegiatan ini sepertinya merupa...