Tangisan Guru
Oleh Nuraini Ahwan
Curahan hati guru sebagai berikut:
bersambung ðŸ˜.....
Menjadi Guru Yang Dirindukan Siswa, Bekerja Cerdas, Ikhlas dan Tuntas
Tangisan Guru
Oleh Nuraini Ahwan
Curahan hati guru sebagai berikut:
bersambung ðŸ˜.....
Oleh Nuraini Ahwan
Memelihara komitmen dan tetap memegang konsistensi dalam menulis membutuhkan perjuangan. Melawan segala gangguan atau godaan yang menyerang diri. Godaan rasa malas dan merasa sok sibuk setiap hari. Padahal kesibukan yang dibuat menjadi alasan tak jelas menghasilkan kerja apa saat itu. Kadang mengeluh pada diri sendiri dengan mengatakan saya sibuk. Atau ketika ditelp oleh seseorang tak jarang pula orang tersebut bertanya sebelum melanjutkan pembicaraan dengan mengatakan, "Apakah anda sibuk hari ini?"
Itu adalah bagian dari beberapa alasan melemahnya komitmen dan konsisten dalam menulis yang mungkin bisa jadi dirasakan oleh banyak orang Jika dikaitkan dengan tulisan seorang dosen yakni Bapak Ngainun Naim dalam blog beliau, ada beberapa type malu dalam menulis, maka saat itu bolehlah seseorang menyebut diri berada dalam level atau type yang ke tiga yakni menulis saja tanpa rasa malu. Mau tulisannya bagus, atau kurang bagus, mau dibaca orang atau tidak, ia tidak perdulikan. Pokoknya menulis saja. Jika tulisan mau dibaca orang atau orang senang pada tulisannya, maka itu adalah bonus baginya dan bisa djadikan pemantik semangat dari penulis tersebut.
Lalu akankah type ini bisa meningkat menjadi type ke empat yakni malu jika tidak menulis? Atau menurun ke level ketiga, kedua atau ke satu. Jika komitemen dan konsisten tidak dipelihara, kemungkinan itu bisa saja terjadi.
Inilah letak perjuangan komitmen dan konsistensi pada diri dalam.menulis.
Menghasilkan buku antologi merupakan jalan menuju terbitnya tulisan sendiri suatu saat nanti. Buku solo dengan seluruh isi buku merupakan tulisan atau karya sendiri mungkin merupakan impian setiap penulis. Walaupun belum sampai kepada ikonik pribadi.
Pagi ini saya membaca tulisan seorang dosen, penggerak literasi, editor dan penulis buku, Bapak Much Khoiri , dalam tulisan berjudul*Buku Sebagai Ikon Penulisnya*
Inti dari tulisan beliau dapat saya kutip sebagai berikut:
"Karya ikonik adalah karya kreatif yang menjadi ikon pribadi pengarang, serta representasi diri dan karya pengarang itu secara keseluruhan.
Karya ikonik adalah karya kreatif yang menjadi ikon pribadi pengarang, serta representasi diri dan karya pengarang itu secara keseluruhan. Tentu, semua itu akibat keajegan atau konsistensi pengarang di dalam menuangkan gagasan ke dalam tulisan.
Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh Bapak penggagas grup "Rumah Virus Literasi atau RVL" yang akrab dengan panggilan Mr.Emcho, bahwa karya ikonik akan menjadi ikon pribadi pengarang. Tinggal bagaimana seorang penulis terutama penulis pemula mempunya komitmen dan konsisten untuk menulis.
Menulis setiap hari tentang apa byang dilihat, dirasa, didengar, dilakukan maupun apa yang dipikiran bukan yang dipikirkan. ___Menulis setiap hari___lambat laun penulis akan menemukan ikon pribadinya.
Apalagi jika yang kita tulis adalah sesuatu yang paling kita sukai, kita kuasai, maka lama kelamaan kita atau seorang penulis akan menemukan branding dirinya sendiri. Branding diri inilah yang menjadi cikal bakal ikon penulis atau pengarang itu sendiri
Menulis tentang apa yang kita sukai akan lebih mengalir dan lebih dinikmati. Bukan berarti seorang penulis hanya menulis satu genre tukisan saja. Dengan terus mengasah diri sendiri secara terus menerus dan berkelnjutan, konsisten dan bagus, berlatih habis habisan setiao hari. Ikon itu lambat laun penulis akan menemukan ikon dirinya atau mungkin boleh disebut branding diri.
Dengan menulis konsisten setiap hari itulah, pengarang itu akan terbentuk dengan alamiah dan meningkat dari satu waktu ke waktu selanjutnya. Jangan lupa, menulis itu keterampilan. Semakin sering dan konsisten dalam berpraktik dan berlatih, maka otomatis kemahiran akan diperoleh. Kemahiran yang diwujudkan dalam karya, menunjukkan keikonan karya yang dihasilkan."
Jika selama ini, seorang penulis atau sebut saja penulis pemula yang sudah menghasilkan berapa banyak buku dalam bentuk buku keroyokan atau buku antologi, maka jangan berkecil hati. Dengan terus berlatih, keberanian akan muncul untuk menerbitkan buku solo.
Kapankah akan bisa menghasilkan buku solo? Kapankah akan menghasilkan buku yang merupakan ikon diri?
Mengambil yang terpendam dari tulisan ini adalah teruslah menulis, kuatkan komitmen, pegang konsisten diri untuk menulis. Jika diperlukan hukum diri jika tidak menulis. Buat janji pada diri sendiri bahwa hutang tulisan dibayar tulisan. Jika dalam satu hari tidak menulis maka dianggap sudah berhutang satu tulisan.
Mr.Emcho diakhir paparan ingin suatu saat, akan menjadi saksi untuk kita wujudkan "Buku adalah Ikon Penulisnya".
Semoga kelak, ketika sebuah buku dibaca orang, maka pembaca akan mengetahui bahwa buku itu adalah karya kita, tanpa melihat terlebih dahulu nama penulis di cover buku. Aamiin YRA
Lombok, 29 Oktober 2020
Judul ?
Oleh Nuraini Ahwan.
Jangan pernah berhenti menulis dan berbagi lewat tulisan. Jangan pikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentang tulisan kita. Atau pernahkah anda menulis, lalu berbagi tulisan itu kepada orang lain dengan berharap tulisan itu akan dibaca? Tentunya bagi seorang penulis terutana penulis pemula, hal ini sangat diharapkan. Ketika tulisan diposting atau dishare, maka tulisan itu dibaca, dikomentari bahkan diberikan masukan berupa saran perbaikan atau setidaknya tanggapan tentang tulisan itu
Lain halnya dengan komunitas menulis yang sudah barang tentu anggotanya adalah para pencinta literasi yang kesehariannya tak lepas dari baca tulis selalu menyempatkankan diri untuk membaca tulisan orang lain dan menulis setiap hari.
Bagi penulis pemula, menulislah terus, jangan berpikir dan berharap banyak kalau tulisan itu akan dibaca orang. Tak jarang tulisan hanya dilihat judulnya lalu dikomentari dengan sepatah dua patah kata tanpa dibaca isinya. "Mantal, luar biasa dan rekan-rekan kata lainnya yang biasa kita jumpai di bawah tulisan kita sebagai bentuk komentar atau hanya diberikan simbol emoticon.
Salam semangat literasi, semoga semangat literasi.menyebar, secepat menyebarnya.......
Lombok, 27 Oktober 2020
Oleh Nuraini Ahwan.
Mengusir kejenuhan pembelajaran pola daring di masa pandemi covid 19 yang semakin garing dengan mengajak guru refreshing rupanya sangat tepat. Refreshing bukan berarti terlepas dari kewajiban melaksanakan pembelajaran daring pada hari tersebut. Kewajiban tetaplah kewajiban yang harus dikerjakan terlebih dahulu, selanjutnya barulah melaksanakan aktivitas yang lainnya.
Hari Rabu lalu, segenap guru dan tenaga kependidikan di sekolah kami mengadakan refreshing, pergi ke tempat pemandian yang sangat dingin. Di samping refreshing, kegiatan juga ditujukan untuk mengisi salah satu ritual suku Sasak yakni Rebo Bontong atau Rabu terakhir sebelum masuk bulan Maulid Nabi. Pada Rebo Bontong ini masyarakat suku sasak memenuhi pemandian untuk mandi, membersihkan diri sebelum masuk bulan maulid.
Sesuai rencana kami berangkat pukul 09.00 wita dan kembali nanti pada pukul 14.00 wita agar bisa finger pada jam pulang. Kami berangkat pagi dengan maksud agar kepergian kami tidak tertunda karena kegiatan antara lain seperti kunjungan pengawas bina (bukan bermaksud tidak terima tamu lho)
Tempat pemandian yang kami kunjungi masih di sekitar kecamatan kami sehingga masih bisa dijangkau dengan sepeda motor. Meskipun tempatnya dekat sekali, tetapi tak satupun diantara kami yang pernah ke sana termasuk saya. Padahal tempat itu adalah bersebelahan dengan tempat tinggal saya (saya kurang jiwa jelajah)
Tempat itu ternyata airnya sangat dingin dan jernih sehingga bebatuan yang ada di dalamnya sangat jelas terlihat. Airmya mengalir jernih, sedikit deras , ada bagian yang dangkal dan ada bagian yang dalam. Nuansa alam, air dingin, jernih dengan bebatuan yang sangat indah membuat kami tergoda untuk terjun ke dalamnya.
Semua tergoda, semua turun mandi berendam sampai mengigil kedinginan, termasuk teman-teman yang tidak membawa pakaian ganti iikut terjun. Saling siram, main air layaknya anak-anak dan persis seperti anak-anak. Benar-benar waktu refreshing dimanfaatkan sebaik-baiknya melupakan kepenatan dengan pembelajaran daring yang kian garing. (Tetap patuhi protokol kesehatan, namun pengunjung lain yang abai tentang ini). Semoga tidak terjadi apa-apa, mengingat tempat mandi di air mengalir juga niatan mandi bersih di bulan Sapar. Hari Rabu terakhir di bulan Sapar sebelum memasuki peringatan hari lahirnya Baginda Nabi Muhammad SAW.
Pembelajaran daring memang kian hari kian menuntut kesabaran. Banyak hal yang membuat pembelajaran ini menjadi garing. Dari orang tua yang kian hari kian merasa jenuh, siswa juga ada indikasi jenuh dilihat dari keaktifannya dalam merespon tugas. Dari guru kejenuhan menanti tugas dari siswa yang menuntut waktu 24 jam dengan respon siswa yang pasif meskipun dibangkitkan dengan pembangkit voltase tinggi.
Hanya sabar......untuk guru yang menanti tugas siswa.. satu.....satu.....satu. hari ini bahkan sampai besoknya lagi.
Lombok, 25 Oktober 2020
Beragam kegiatan yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan untuk mengakhiri masa pembelajaran setiap tahunnya. Kegiatan ini sepertinya merupa...