Sunday, November 1, 2020

Mengapa Begini, Nak?; Duhai Orang Tua

Tangisan Guru 

Oleh Nuraini Ahwan

Tulisan di bawah merupakan kutipan penuh dari curahan hati seorang guru. Curahan hati ini bisa jadi mewakili suara hati guru di beberapa penjuru negeri ini. Guru yang merasakan sulitnya melaksanakan pembelajaran jarak jauh ( PJJ) baik daring , luring maupun kombinasi keduanya.
Sulitnya pembelajaran baik sebelum ada kuota pembelajaran dari pusdatin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mupun sesudah adanya kuota belajar ini. 
Sudah ada kuota belajar, toh masih saja sulit.Mungkinkah karena kejenuhan yang sudah mencapai tingkat langit ke tujuh?

Curahan hati guru sebagai berikut:

"Setiap detik,  Bu Guru terus menengok handphone, menghidupkan data dan menengok apakah ada anaknya  Bu guru yang mengumpulkan tugas lewat wa, ...  Kami,  bapak ibu guru tanpa mengenal lelah untuk terus mengontrol HP karena banyak siswa, kalau tidak segera dibalas wa nya meraka bilang inilah, itulah...  Tanpa mengenal waktu kami menyempatkan diri bapak ibu guru untuk membalas,  merespon,  memberi nilai pekerjaan anak-anak. Namun, sampai jam 21.00 hanya 6 orang siswa yang mengumpulkan tugas ... Padahal tugasnya hanya mencatat satu lembar 😭😭 Apalagi kalau  tugasnya itu lebih sulit, entahlah....apa yang akan terjadi.  Sedih rasanya melihat anak-anak kami seperti ini...  Faktor apa yang membuat mereka begini.

Toloooog........ buat para orang tua... kuota belajar tahap ke 2 sudah masuk jangan alasan tidak ada kuota lagi.   Bantu anak-anak kami untuk mengerjakan tugasnya di rumah,  kontrol HP-nya jikamemang anak yang pegang HP....

bersambung 😭.....

Saya pernah menulis dalam blog sebelumnya dengan judul" Memotivasi yang Belum Termotivasi"  Isi tulisan saya ternyata memang dirasakan oleh guru di tempat saya bertugas. Perasaannya dituangkan dalam tulisan dan di share ke whatsaap grup kelasnya. Apakah curahan perasaan guru ini akan dibaca oleh orang tua dan siswa?
Entahlah karena budaya literasi yang masih rendah.

Dalam tulisan sebelumnya pada seri ke sekian tentang pembelajaran pola dalam jaringan di sekolah kami, saya pernah menulis tentang kejenuhan yang terindikasi dari semakin menurunnya keaktifan orang tua dan siswa dalam pengumpulan tugas. Tulisan tersebut berjudul "Apakah Sudah Sampai pada Titik Jenuh?"

Wallahu aklam bissawab.......
Bersabarlah guru, banyak dituntut namun tak banyak yang mengerti. Bukankah guru juga mau dimengerti?

Lombok, 1 Nopember 2020.
Semangat bulan hari pahlawan. ....

Thursday, October 29, 2020

Komitmen, Konsistensi Menuju Ikon Diri

Oleh Nuraini Ahwan

Memelihara komitmen dan tetap memegang konsistensi dalam menulis membutuhkan perjuangan. Melawan segala gangguan atau godaan yang menyerang diri. Godaan rasa malas dan merasa sok sibuk setiap hari. Padahal kesibukan yang dibuat menjadi alasan tak jelas  menghasilkan kerja apa saat itu. Kadang mengeluh pada diri sendiri dengan mengatakan saya sibuk. Atau ketika ditelp oleh seseorang tak jarang pula orang tersebut bertanya sebelum melanjutkan pembicaraan dengan mengatakan, "Apakah anda sibuk hari ini?"

Itu adalah bagian dari beberapa alasan melemahnya komitmen dan konsisten dalam menulis yang mungkin bisa jadi dirasakan oleh banyak orang Jika dikaitkan dengan tulisan seorang dosen yakni Bapak Ngainun Naim dalam blog beliau, ada beberapa type malu dalam menulis, maka saat itu bolehlah seseorang menyebut diri berada dalam level atau type yang ke tiga yakni menulis saja tanpa rasa malu.  Mau tulisannya bagus, atau kurang bagus, mau dibaca orang atau tidak, ia tidak perdulikan. Pokoknya menulis saja. Jika tulisan  mau dibaca orang atau orang senang pada tulisannya, maka itu adalah bonus baginya dan bisa djadikan pemantik semangat dari penulis tersebut.

Lalu akankah type ini bisa meningkat menjadi type ke empat yakni malu jika tidak menulis? Atau menurun ke level ketiga, kedua atau ke satu. Jika komitemen dan konsisten tidak dipelihara, kemungkinan itu bisa saja terjadi.

Inilah letak perjuangan komitmen dan konsistensi pada diri dalam.menulis.

Menghasilkan buku antologi merupakan jalan menuju terbitnya tulisan sendiri suatu saat nanti. Buku solo dengan seluruh isi buku merupakan tulisan atau karya sendiri mungkin  merupakan impian setiap penulis. Walaupun belum sampai kepada ikonik pribadi.

Pagi ini saya membaca tulisan  seorang dosen, penggerak literasi, editor dan penulis buku, Bapak Much Khoiri , dalam tulisan berjudul*Buku Sebagai Ikon Penulisnya* 

Inti dari tulisan beliau dapat saya kutip sebagai berikut:

"Karya ikonik adalah karya kreatif yang menjadi ikon pribadi pengarang, serta representasi diri dan karya pengarang itu secara keseluruhan.

Karya ikonik adalah karya kreatif yang menjadi ikon pribadi pengarang, serta representasi diri dan karya pengarang itu secara keseluruhan.  Tentu, semua itu akibat keajegan atau konsistensi pengarang di dalam menuangkan gagasan ke dalam tulisan.

Saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh Bapak penggagas grup "Rumah Virus Literasi atau RVL" yang akrab dengan panggilan Mr.Emcho, bahwa karya ikonik akan menjadi ikon pribadi pengarang. Tinggal bagaimana seorang penulis terutama penulis pemula mempunya komitmen dan konsisten untuk menulis.

Menulis setiap hari tentang apa byang dilihat, dirasa, didengar, dilakukan maupun apa yang dipikiran bukan yang dipikirkan. ___Menulis setiap hari___lambat laun penulis akan menemukan ikon pribadinya.

Apalagi jika yang kita tulis adalah sesuatu yang paling kita sukai, kita kuasai, maka lama kelamaan kita atau seorang penulis akan menemukan branding dirinya sendiri. Branding diri inilah yang menjadi cikal bakal ikon penulis atau pengarang itu sendiri 

Menulis tentang apa yang kita sukai akan lebih mengalir dan lebih dinikmati. Bukan berarti seorang penulis hanya menulis satu genre tukisan saja.  Dengan terus mengasah diri sendiri secara terus menerus dan berkelnjutan, konsisten dan bagus, berlatih habis habisan setiao hari. Ikon itu lambat laun penulis akan menemukan ikon dirinya atau mungkin boleh disebut branding diri.

Dengan menulis konsisten setiap hari itulah, pengarang itu akan terbentuk dengan alamiah dan meningkat dari satu waktu ke waktu selanjutnya.  Jangan lupa, menulis itu keterampilan. Semakin sering dan konsisten dalam berpraktik dan berlatih, maka otomatis kemahiran akan diperoleh. Kemahiran yang diwujudkan dalam karya, menunjukkan keikonan karya yang dihasilkan."

Jika selama ini, seorang penulis atau sebut saja penulis pemula yang sudah menghasilkan berapa banyak buku dalam bentuk buku keroyokan atau buku antologi, maka jangan berkecil hati. Dengan terus berlatih, keberanian akan muncul untuk menerbitkan buku solo.

Kapankah akan bisa menghasilkan buku solo? Kapankah akan menghasilkan buku yang merupakan ikon diri? 

Mengambil yang terpendam dari tulisan ini adalah teruslah menulis, kuatkan komitmen, pegang konsisten diri untuk menulis. Jika diperlukan hukum diri jika tidak menulis. Buat janji pada diri sendiri bahwa hutang tulisan dibayar tulisan. Jika dalam satu hari tidak menulis maka dianggap sudah berhutang satu tulisan. 

Mr.Emcho diakhir paparan ingin  suatu saat,  akan menjadi saksi untuk kita wujudkan   "Buku adalah Ikon Penulisnya".

Semoga kelak, ketika sebuah buku dibaca orang, maka pembaca akan mengetahui bahwa buku itu adalah karya kita, tanpa melihat terlebih dahulu nama penulis di cover buku. Aamiin YRA

Lombok, 29 Oktober 2020

Judul ?

Tuesday, October 27, 2020

Jangan Pernah Berhenti, Meskipun Tak Dilirik

 Oleh Nuraini Ahwan.

Jangan pernah berhenti menulis dan berbagi lewat tulisan. Jangan pikirkan apa yang dipikirkan orang lain  tentang tulisan kita. Atau pernahkah anda menulis,  lalu berbagi tulisan itu kepada orang lain dengan berharap tulisan itu akan dibaca? Tentunya bagi seorang penulis terutana penulis pemula, hal ini sangat diharapkan. Ketika tulisan diposting atau dishare, maka tulisan itu dibaca, dikomentari bahkan diberikan masukan berupa saran perbaikan atau setidaknya tanggapan tentang tulisan itu

Untuk tidak mematahkan semangat kita dalam menulis,  janganlah terlalu berharap seperti itu atau dibaca orang menjadi tujuan utama kita dalam menuis karena itu akan bisa membuat kita merasa kecewa. 
Mengapa?
Tidak banyak yang suka membaca karena kecintaan pada literasi belum mengakar rumput dengan masyarakat sekeliling kita. Bapak Anies Baswedan, Gubernur DKI pernah menyampaikan dalam pidato beliau pada sebuah acara bahwa minat baca kita tinggi, tetapi daya baca kita masih rendah.  Secara pribadi saya membenarkan pernyataan dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesiaini.  Dilihat dari fakta di lapangan pernyataan ini benar adanya. Salah satu indikasi yang membenarkan pernyataan ini adalah  jika membaca pesan atau chatingan di whatsaap bisa berjam-jam bahkan sampai gawai di tangan terasa panas. Bisa jadi pindah tempat dari satu tempat ke tenpat lain demi membaca pesan klang klung di gawai. Atau bisa jadi punggung terasa pegal dan mata perih karena membaca pesan masuk. Lalu bagaimana dengan membaca buku,  tulisan dalam blog, tulisan ilmiah lainnya atau tulisan sejnisnya? Inilah kenyataannya,  jika membaca buku yang sedikit tebal cendrung diskip atau diloncati bahkan ditutup. Jika diposting tulisan dengan genre seperti disebutkan di atas, maka cendrung dilewati akan tetapi jika diposting cerita atau video lucu dan sejenisnya, maka akan ramai komentar. 
Jadi teruslah menulis,  jangan terlalu berharap tulisan dibaca orang, tetapi jika tulisan kita disukai atau mau dibaca orang, itu adalah sebuah bonus bagi si penulis.

Lain halnya dengan komunitas menulis yang sudah barang tentu anggotanya adalah para pencinta literasi yang kesehariannya tak lepas dari baca tulis selalu menyempatkankan diri untuk membaca tulisan orang lain dan menulis setiap hari.

Bagi penulis pemula, menulislah terus, jangan berpikir dan berharap banyak kalau tulisan itu akan dibaca orang.  Tak jarang tulisan hanya dilihat judulnya lalu dikomentari dengan sepatah dua patah kata tanpa dibaca isinya. "Mantal, luar biasa dan rekan-rekan kata lainnya yang biasa kita jumpai di bawah tulisan kita sebagai bentuk komentar atau hanya diberikan simbol emoticon.

Walaupun tidak menampik, ada perasaan dan pertanyaan yang menggelitik di benak ini. Mengapa sulit sekali diajak membaca, ya.... Bukankah membaca salah satu cara memperkaya perbendaharaan kata ketika ingin menulis?
Wallahu a'lam bissawab......

Salam semangat literasi, semoga semangat literasi.menyebar, secepat menyebarnya.......

Lombok, 27 Oktober 2020


Monday, October 26, 2020

Memotivasi yang Belum Termotivasi

Oleh Nuraini Ahwan.

Screnshoot di samping saya ambil dari postingan salah satu guru dalam whatsaap grup kelas. Ini adalah pemberitahuan atau pengunuman yang disampaikan melalui whatsaap grup kelas untuk siswa yang sudah memgumpulkan tugas pada pembelajaran pola dalam jaringan.

Cara ini rupanya dimaksudkan untuk memotivasi siswa lain yang belum mengumpulkan. Apakah cara ini efektif dan tepat dilakukan?.
Mari kita simak bagaimana prosedur siswa mengumpulkan tugas pada pola pembelajaran daring dalam whatsaap grup kelas ini.
  1. Guru kelas memberikan tugas kepada siswa melalui whatsaap grup kelas
  2. Sementara, grup dikunci dan hanya mengizinkan guru kelas dan admin yang lain yang bisa mengirim pesan. Grup dikunci dimaksudkan agar siswa dan orang tua fokus pada tugas
  3. Jika ada siswa atau orang tua yang bertanya, pertanyaan bisa disampaikan melalui wa pribadi guru kelas. Selanjutnya untuk mengantisipasi ada pertanyaan serupa, guru kelas menjawab pertanyaan tersebut melalui whatsaap grup kelas.
  4. Siswa yang sudah selesai mengerjakan tugas,  mengirim tugas berupa foto tugas, file tugas, video atau bentuk tagihan lainnya sesuai permintaan guru ke wa pribadi guru
  5. Pengumpulan tugas ke wa pribadi dimaksudkan untuk mencegah plagiasi tugas dari siswa yang belum mengunpulkan.
  6. Karena pengumpulan ke whatsaap pribadi, ini artinya hanya guru yang mengetahui siapa saja yang sudah mengumpulkan tugas.
Yang menjadi pertanyaan kembali, ketika tugas dikumpulkan melalui whatsaap pribadi, lalu siswa yang sudah mengumpulkan diumunkan melalui whatsaap grup, efektf dan jitukah cara ini? 

Saya mengamati beberapa grup kelas yang ada di tempat saya bertugas, SDN 1 Dasan Tereng, melakukan cara ini, mengumumkan di whatsaap grup,  siapa saja yang sudah mengumpulkan dengan mengisi list (list diisi guru).  Sejak pengumuman sebagai motivasi ini, pergerakannya lambat, sehari dua hari pertambahan jumlah siswa yang mengumpulkan tidak menunjukkan perkembangan atau kemajuan yang pesat.

Jadi apakah cara ini tepat ataukah akan memicu siswa untuk tidak mengumpulkan tugas mengingat jumlah siswa yang tidak atau belum memgumpulkan lebih banyak dari yang sudah meskipun batas waktu sudah berlalu atau habis. 

Berdasarkan kenyataan itu, perlu dipertimbangkan kembali cara tepat untuk memotivasi siswa yang belum mengumpulkan atau siswa yang cendrung pasif. 
Apa saja informasi yang tepat diposting atau dishare di whatsaap grup kelas. Apakah tugas, pengumuman, kalimat motivasi ataukah seperti yang sudah dilakukan ini? 
Pertimbangkan baik buruknya, evaluasi jika sudah dilakukan dan tak memberikan hasil yang baik, perlukah cara itu dipertahankan ataukah dicari solusi lain yang tingkat keberhasilannha dalam.memotivasi lebih besar?

Di sampaing itu, perlu juga mencari tahu penyebab paling besar atau paling dominan dari siswa yang tidak mengumpulkan tugas. Kalau sekedar kata jenuh, bosan, garing dan kata-kata lainnya sepertinya sudah umum untuk pembelajaran masa pandemi civid 19 yang sudah hampir memasuki waktu 1 tahun ini.

Ada berapa faktor yang bisa menjadi kajian:
  1. Dukungan orang tua
  2. Pendidikan orang tua
  3. Pekerjaan orang tua
  4. Tingkat ekonomi orang tua
  5. Siswa (intake, kemauan, disiplin)
  6. Lingkungan. 
Selamat berinovasi, saatnya guru banyak belajar, banyak mencoba dan banyak karya.

Lombok, 26 Oktober 2020

Sunday, October 25, 2020

Refreshing di Sela Pembelajaran Yang Kian Garing

Oleh Nuraini Ahwan.

Mengusir kejenuhan pembelajaran pola daring di masa pandemi covid 19 yang semakin garing dengan mengajak guru refreshing rupanya sangat tepat.  Refreshing bukan berarti terlepas dari kewajiban melaksanakan pembelajaran daring pada hari tersebut. Kewajiban tetaplah kewajiban yang harus dikerjakan terlebih dahulu, selanjutnya barulah melaksanakan aktivitas yang lainnya. 

Hari Rabu lalu, segenap guru dan tenaga kependidikan di sekolah kami mengadakan refreshing, pergi ke tempat pemandian yang sangat dingin. Di samping refreshing, kegiatan juga ditujukan untuk mengisi salah satu ritual suku Sasak yakni Rebo Bontong atau Rabu terakhir sebelum masuk bulan Maulid Nabi. Pada Rebo Bontong ini masyarakat suku sasak memenuhi pemandian untuk mandi, membersihkan diri sebelum masuk bulan maulid. 

Sesuai rencana kami berangkat pukul 09.00 wita dan kembali nanti pada pukul 14.00 wita agar bisa finger pada jam pulang. Kami berangkat pagi dengan maksud agar kepergian kami tidak tertunda karena kegiatan antara lain seperti kunjungan pengawas bina (bukan bermaksud tidak terima tamu lho)

Tempat pemandian yang kami kunjungi masih di sekitar kecamatan kami sehingga masih bisa dijangkau dengan sepeda motor. Meskipun tempatnya dekat sekali, tetapi tak satupun diantara kami yang pernah ke sana termasuk saya. Padahal tempat itu adalah bersebelahan dengan tempat tinggal saya (saya kurang jiwa jelajah)

Tempat itu ternyata  airnya sangat dingin dan jernih sehingga bebatuan yang ada di dalamnya sangat jelas terlihat. Airmya mengalir jernih, sedikit deras , ada bagian yang dangkal dan ada bagian yang dalam. Nuansa alam, air dingin, jernih dengan bebatuan yang sangat indah membuat kami tergoda untuk terjun ke dalamnya.

Semua tergoda, semua turun mandi berendam sampai mengigil kedinginan, termasuk teman-teman yang tidak membawa pakaian ganti iikut terjun. Saling siram, main air layaknya anak-anak dan persis seperti anak-anak. Benar-benar waktu refreshing dimanfaatkan sebaik-baiknya melupakan kepenatan dengan pembelajaran daring yang kian garing. (Tetap patuhi protokol kesehatan, namun pengunjung lain yang abai tentang ini). Semoga tidak terjadi apa-apa, mengingat tempat mandi di air mengalir juga niatan mandi bersih di bulan Sapar. Hari Rabu terakhir di bulan Sapar sebelum memasuki peringatan hari lahirnya Baginda Nabi Muhammad SAW. 

Pembelajaran daring memang kian hari kian menuntut kesabaran. Banyak hal yang membuat pembelajaran ini menjadi garing. Dari orang tua yang kian hari kian merasa jenuh, siswa juga ada indikasi jenuh dilihat dari keaktifannya dalam merespon tugas. Dari guru kejenuhan menanti tugas dari siswa yang menuntut waktu 24 jam dengan respon siswa yang pasif meskipun dibangkitkan dengan pembangkit voltase tinggi. 

Hanya sabar......untuk guru yang menanti tugas siswa.. satu.....satu.....satu. hari ini bahkan sampai besoknya lagi.


Lombok,  25 Oktober 2020

Wednesday, October 21, 2020

Tantangan Baru Guru Desa

 Oleh Nuraini Ahwan
Tantangan baru? Sebenarnya tidak juga, bagi guru yang letak geografis tugasnya di perkotaan. Tantangan baru? Ya, bagi guru yang keseharian tugasnya di daerah pedesaan. 
Mengapa? Berikut sejumput tulisan yang berkisah tentang tantangan baru guru desa. 

Pembelajaran jarak jauh baik teknik dalam jaringan atau daring atau juga disebut online selalu penuh cerita. Jika dibandingkan dengan teknik luring atau luar jaringan atau orang juga menyebutnya ofline, maka teknik daring ini sangat sarat dengan cerita. Jika guru atau pendidik terbiasa menulis, maka cerita daring ini tak kan habis untuk ditulis. Jika dibuat menjadi buku maka guru akan menghasilkan banyak buku yang berkisah tentang pembelajaran jarak jauh teknik daring ini.

Pembelajaran dengan teknik daring memang penuh  cerita, apalagi jika daring ini dirasakan garing maka banyak hal yang harus dipikirkan untuk membuatnya menjadi tidak garing. Pembelajaran teknik ini sejatinya menuntut guru untuk mengakrabkan diri dengan dunia teknolgi. Kata mengakrabkan diri mengandung makna seorang guru harus memiliki kemampuan dalam dunia teknologi (lattop, handphone, tablet, komputer dekstop) berikut aplikasi di dunia internet.  Gagap teknologi atau gaptek pada saat menggunakan pola pembelajaran daring menjadi penyebab pelaksanaan pembelajaran menjadi  garing atau tidak menarik.

Salah satu contoh pembelajaran teknik daring yang garing adalah ketika pembelajaran teknik ini sudah berlansung lama, lalu guru tidak memvariasikan strategi pembelajarannya, seperti hanya melalui whatsaap saja. Kirim tugas ke anak- anak, dilanjutkan dengan anak anak mengerjakan tugas, kirim ke guru, komentar atau dibalas oleh guru dengan sepatah dua patah kata penyemangat atau emoticon. Lambat laun anak-anak akan bosan tak terkecuali orang tua. 

Indikasi kebosanan anak-anak terlihat dari menurunnya kedisiplinannya dalam mengirim tugas. Pelampiasan kebosanan atau kejenuhan anak-anak masih sebatas tidak mengirim tugas, tetapi tidak dengan orang tua yang mendampingi mereka belajar di rumah. Orang tua bisa menyampaikan perihak ini melalui bahasa tulis seperti chating ke whasaap pribadi guru atau kepala sekolah. Bahkan perihal ini bisa orang tua murid sampaikan dengan menghubungi kepala sekolah lewat telepon. 

Ini cerita pembelajaran daring hari ini di sekolah kami yang terletak di desa. Berawal dari chatingan wali murid ke whatsaap pribadi saya. Intinya meminta guru memvatiasikan pembelajaran antara lain dengan menggunakan video, zoom dan google classroom atau aplikasi lainnya yang sejenis. Apa ya? Sekokah desa, dengan kepemilikan handphone bukan pribadi anak melainkan orang tua dan membawanya saat kerja, orang tua yang mendampingi sebagian besar tamatan SD dengan penguasan teknologi yang sangat minim.
Apa ya,...googke classrom untuk anak usia SD kelas 1 dan 2? Jika kelas tinggi kemungkinan ini sangat besar jika dilatihkan dengan sabar.

Saya menjawab dengan bijak sehingga orang tua paham dan mengerti dengan kondisi sekolah berikut kondisi orang tua yang mendampingi putra-putrinya belajar di rumah. Berikut jawaban saya terhadap masukan orang tua yang meminta pembelajaran melalui zoom dan google clasroom..
Gih ibu, bisa lewat zoom, google classroom, tapi tidak semua anak bisa dengan aplikasi itu, kami sudah menyarankan untuk orang tua donload aplikasi zoom. Kami meminta guru kelas mendata siapa saja yang punya aplikasi zoom tetapi dalam satu kelas kalau ada 5 orang yang punya. Lagi pula bukan anak anak yang membawa handphonenya pada jam pagi. Apalagi kalau memakai google clasroom untuk ukuran sekolah kami. Ini  belum bisa dilaksanakan jika kita melihat secara rata rata kepemilikan hp. Suatu contoh untuk pengiriman tugas saja, guru guru harus menanti sampai malam bahkan sampai besok baru anak anak kumpulkan tugas. Dengan alasan hp dibawa kerja oleh orang tua. Lalu penggunaan google clasroom, perlu latihan cara penggunaannya. Guru kelas 5 sudah menggunakan google clasroom, itu saja saya me lihat masih kesulitan dsebabkan karena tidak ada pelatihan khusus kepada siswa.  Mengisi absen online saja masih perlu latihan. Jika wali murid di atas rata rata tamatan SMA,  atau hp dimiliki oleh siswa tidak dibawa kerja orang tua, mungkin besar kemungkinan akan bisa. Na...ini, pendampingnya di rumah tidak seperti itu jadi sulit.
Lalu dengan video, banyak orang tua yang meminta jangan banyak nonton  video atau membuat video atau menonton video pembelajaran , katanya orang tua menghabiskan kuota internet yang banyak. 
Kami jadi bingung bapak dan ibu. Tapi akan kami tampung usulan ini, terima kasih.

Nanti kami akan meminta orang tua mendonload aplikasi zoom dan meminta mereka mengisi list siapa saja yang sudah donload aplikasi zoom dan siap belajar via zoom di pagi hari gih, Semoga bisa."

Lanjutan perbincaangan saya bersama orang tua siawa:
Gih ibu, tiang bahkan menyuruh  guru  untuk bersabar, karena banyak guru yang melaporkan, dari jumlah kelas hanya berapa persen yang kirim tugas, diingatkan sampai berkali- kali tetap tetap saja tidak kirim tugas, kuota belajar sudah dapat tetapi sama saja kondisinya. Akibatnya guru-guru tidak bekerja di sekolah saja, di rumah masih menerima siswa yang kirim tugas bahkan sampai malam. Merekaf nama siswa yang kumpulkan tugas menjadi kesulitan berikut tugasnya yang tidak dikumpulkan tepat waktu. Guru di sekolah pineng (pusing). 

Satu contoh saya ingin mengecek keaktifan siswa dan orang tua sebagai bentuk pertanggungjawaban kuota belajar dengan mengirim tugas sekali saja  ke whatsaap saya ketika sudah dapat kuota belajar,  dari 180 siswa kurang lebih yang saya minta, tidak sampai 30 orang yang kirim ke nomor saya. Nah.....jika seperti ini, kita mau mengatakan apa,  bu?
Demikian juga dengan guru, sampai akhirnya saya mengatakan kepada guru," guru jangan sakit  atau marah karena anak tidak kumpulkan tugas, terima saja mana yang kirim."

Alhamdulillah kita masih bisa berbuat seperti ini, daripada tidak sama sekali.  Mari kita syukuri yang sudah dan terus kita perbaiki. Semoga harapan kita bisa terwujud bapak dan ibu, gih.

Kami bersyukur bisa melaksanakan teknik daring untuk pembelajaran masa pandemi covid 19 meskipun dengan perjuangan yang tertatih, terhempas dan melelahkan.

Masukan atau saran dari orang tua siswa tentunya akan menjadi pemantik semangat guru untuk terus belajar, mengakrabkan diri dengan teknologi, dengan internet sehingga daring tidak menjadi garing.
Masukan saran dan menjangkitnya kejenuhan pembelajaran daring yang kian garing menjadi tantangan guru desa di masa pamdemi covid 19 ini.

Masih ingatkah kita dengan pesan Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim tentang pembelajaran di masa pandemi ini? Beliau berpesan kepada guru," Ini merupakan masa yang sulit, tetapi bukan berarti pembelajaran harus membosankan. Kini saatnya guru menjadi murid, banyak bertanya, banyak coba dan banyak karya."

Artinya guru harus bisa merancang pembelajaran jarak jauh yang menyenangkan bagi siswanya. Guru harus menyesuaikan model, strategi dan metode pembelajaran, memvariasikannya agar siswa tidak bosan. Ini pula yang mengisyaratkan guru harus banyak belajar. Jangan sampai google mengalahkan perannya sebagai guru meskipun pada kenyataannya peran guru tak akan mampu tergantikan oleh kecanggihan teknologi dan google.

Guru di rumah (orang tua) dan guru di sekolah menjadi garda terdepan,  bersama-sama,  memastikan bahwa siswa telah memperoleh haknya dalam pendidikan yang menyenangkan.

Lombok, 22 Oktober 2020

Tuesday, October 20, 2020

Menulis Setiap Hari, Terangkum Dalam Sebuah Buku

Oleh Nuraini Ahwan

Menulis bukanlah merupakan bakat atau keahlian melainkan merupakan kebiasaan yang dilatih secara terus menerus. Dilatih setiapa hari dengan menulis apa saja yang dilihat, didengar, dirasakan dialami dan dipikirkan. Kalau boleh saya menyebutnya dengan kalimat menulis tentang tanda -tanda di sekitar. 
Jadi, menulislah setiap hari tentang apa saja. Jangan takut salah, jangan takut tulisan jelek, atau jangan malu ketika sudah menulis, tulisan itu dibaca orang. 
Ketika menulis tak bisa selesai atau cenderung diulang-ulang, maka tulislah terus, jangan dulu dibaca, kita bisa baca keesokan harinya.
Seorang penulis dalam satu kesempatan pernah ditanya oleh seorang penulis pemula. Penulis pemula mengatakan kalau tulisannya tak bisa selesai, dicoret, diulang, ditulis, dicoret, demikian seterusnya hingga akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk menulis atau menghentikan aktivitas menulisnya. 

Dengan bijak penulis hebat itu mengatakan tulis saja terus jangan pernah membacanya. Apalagi baru selesai menulis hanya beberapa kalimat lalu dibaca, maka yakin tulisan itu tak akan selesai. Ini disebakan karena ketika baru selesai beberapa kalimat lalu dibaca, maka apa yang dipikirkan tadi akan hilang atau fokus akan terbagi. 
 

Menulislah setiap hari, simpan, kumpulkan kemudian buatlah atau terbitkan menjadi sebuah buku. Ini pula yang saya lakukan sehingga bisa terbit sebuah buku berjudul"Rahasia Menulis Ala Penulis Hebat." Buku ini ber-ISBN, dan terbit bulan September 2020. Isinya sangat memotivasi para penulis pemula agar tidak takut menggoreskan penanya, menuangkan apa yang ada dipikiran menjadi sebuah karya. 

Kegiatan Akhir Tahun di SDN 1 Dasan Tereng

Beragam kegiatan yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan untuk mengakhiri masa pembelajaran setiap tahunnya. Kegiatan ini sepertinya merupa...