Wednesday, May 13, 2020

Belajar Dari Rumah (BDR); Rinduku Padamu (Seri 10)

Oleh Nuraini Ahwan

"Ya Allah, rahmatilah kami dengan Al qur'an, Jadikan ia imam kami, cahaya, petunjuk dan rahmat bagi kami.Ya Allah, ingatkanlah kami apa yang kami lupa dan ajarkan bagi kami apa yang kami jahil. Karuniakanlah kepada kami untuk dapat membacanya sepanjang malamnya  dan sepanjang siangnya. Jadikanlah ia prisai kami, Wahai Tuhan sekalian alam"

Untaian kalimat di atas  membuat hati bergetar dan mengingatkan saya akan kegiatan satu tahun yang lalu. Kegiatan pada  bulan suci ramadhan di tempat saya bertugas. Kalimat di atas membuat saya selalu menangis,  Saya pasti meminta siswa-siswi untuk mengulangnya sampai berkali-kali. Tak segan- segam saya memberi komando,"Ayo..buka suaramu, nak" lebih kencang lagi, yang lantang nak, biarkan suaramu  terdengar sampai rumahmu yang jauh di sana!" 

Cerita pagi ini, Selasa 12 Mei 2020, saya hanya duduk sendiri di belakang meja piket guru. Suasana memnag tidak seperti biasanya. Corona virus disease membuat semua tatanan kehidupan berubah, bahkan saya mengatakan wabah ini telah mengaduk-aduk perasaan saya. Di belakang meja piket, saya hanya duduk termenung sembari menunggu teman-teman piket yang lainnya. . Tidak ada lagi  celoteh siswa  yang terdengar. Hanya bising kendaraan lalu lalang yang saya lihat karena tempat tugas saya berada di pinggir jalan negara. 

Pandangan saya menyapu seluruh sekolah, sampai pada halaman sekolah yang sangat lengang, sepi seakan menyapaku," Hai...mana siswa-siswimu? mengapa ia tidak berlari-lari di sini? Mengapa mereka tidak lagi melantunkan ayat suci di sini lagi? Aku sudah bersih di sapu dari tadi."
Saya hanya bergumam sendiri,"Dulu, pada jam ini, halaman ini sudah dipenuhi oleh siswa  perempuan menggunakan mukena, menyandang Al Qur'an suci di dada. Siswa laki-lai dengan gagahnya menggunakan busana muslim dengan peci menambah kegagahan dan kesholihannya. 

Di halaman inilah, setahun yang lalu semua siswa berkegiatan. Sangat seru dan menyenangkan. Tidak terasa panas, mereka asyik dalam kelompoknya melaksanakan kegiatan tadarrus. Dengan dikoordinir oleh masing-masing guru. Mereka melaksanakan tadaruus dengan pola yang diterpakan oleh sekolah
Pola yang diterapkan dalam tadarrus tahun lalu adalah "One Day One Juz One Grup
Pola ini  di fasilitasi dengan media berupa satu kaleng Juz ( Juz  Al Qur'an bukan juss minuman). Dalam kaleng juz tersebut berisi kartu potongan surat dan ayat. Kaleng juz  dibuat sebanyak 30 kaleng yang mencerminkan juz 1 sampai juz 30. sehingga disebut kaleng juz 1 sampai kaleng juz 30. dalam kaleng juz itulah terdapat potongan-potongan surat  dan ayat yang akan dibaca siswa.

Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Dalam setiap kelompok dipimpin oleh 1 orang ketua kelompok dan 1 guru pemandu. Pada awal pelaksanaan kegiatan, kepala sekolah atau guru agama memberikan arahan cara kerja atau pelaksanaan. Pertama, semua kelompok siswa duduk di halaman yang sudah di gelar karpet. Koordinator pelaksana menyiapkan kaleng juz di depan. Selanjutnya ketua kelompok mengambil  1 kaleng juz dan menyerahkan kepada anggota kelompoknya. Guru pemandu atau pendamping masing-masing kelompok membimbing siswa cara membaca karttu surat, ayat, dan halaman yang tertera pada potongan kartu. Selanjutnya siswa membaca Al Qur'an sesuai dengan potongan kartu yang mereka ambil masing-masing dalam kaleng juz. (ada perbedaan tugas untuk siswa yang masih ikro' dari hasil pendataan sebelum pelaskanaan)

Pola ini mampu menyelesaikan membaca Al Qur'an  sampai beberapa juz. Bagi kelompok yang sudah selesai membaca 1 kaleng juz, mereka boleh mengambil kaleng juz berikutmya yang belum dibaca atau lanjutan juz. 

Untuk memotivasi grup, koordinator membuatkan jurnal membaca Al Qur'an yang diisi setiap hari Juz apa yang dibacanya. Boleh lah berkompetisi untuk kebaikan. Guru pendamping yang bertugas menyimak dan memperbaiki bacaan siswa yang belum tepat. Jadi tidak mengejar asal khatam.
Di penguhujung kegiatan, atau  apabila sudah khatam, maka itulah kegiatan yang sangat menyenangkan. Siswa-siswi melaksanakan khatam layaknya mereka khataman Al Quran di masjid.  Sebelum khatam Al Qur'an, siswa-siswi melantunkan doa khatam Al Qur'an yang artinya seperti yang tertera pada awal tulisan ini.
Sebelum khatam kepala sekolah berpesan" Bacaah Al Qur'an dengan hati. Taruh Ia di tempat tertinggi dan dekaplah Ia di dadamu" 
Kalimat yang dalam dan penuh arti yang dijelaskan selanjutnya oleh guru agama Islam selaku koordinator kegiatan. 

Saya meneteskan air mata, mengingat siswa-siswi yang masih belajar dari rumah (BDR) sampai 1 Juni 2020 nanti. Saya rindu suara mereka.  Saya rindu gelak tawa mereka. Saya rindu lantunan doa mereka. Saya rindu dengan suara mereka yang menggema sampai jauh.  Saya rindu dengan kalimat yang engkau lantunkan "Allhaummarhamna Bil Qur'an........" 
Saya rindu padamu, jadilah generasi pencinta Al Quran. Jadikanlah membaca Al Qur'an sebagai kebutuhan.
Wassalam

Lombok, 13 Mei 2020
Edisi, Rindu Siswa
Hp. 081805590038

Tuesday, May 12, 2020

Benarkah Pembelajaran Teknik Daring Mahal? (Seri 9)



Oleh Nuraini Ahwan

Tulisan saya hari ini, Selasa 12 Mei 2020 dengan judul sebuah pertanyaan. "Benarkah Pembelajaran Teknik Daring Mahal?"  Jawaban pembaca  tentunya akan berbeda-beda sesuai dengan kondisi, tempat, keadaan ekonomi dan sebagainya. 

Tulisan ini saya angkat dari pengalaman pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan sejak pandemi corona virus disease 19 melanda negara kita Indonesia. Pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan sudah pada hari terakhir tahap 4 dari perpanjangan pertama 26 Maret 2020. 

Pembelajaran dengan model daring atau dalam jaringan membutuhkan jaringan internet dan kuota internet yang cukup, handphone android, tablet, lattop,  dekstop atau salah satu di antaranya. Ini pastinya memerlukan dana yang cukup dan sinyal yang lancar untuk bisa melaksanakan atau mengikuti pembelajaran jarak jauh model ini.

Saya mengambil sebuah contoh di tempat saya bertugas. Sebuah sekolah desa yang melaksanakan pembelajaran jarak jauh model daring  (dalam jaringan) dengan memanfaatkan aplikasi sederhana watshaap. Apilkasi ini yang mampu digunakan oleh semua guru pada tahap awal pelaksanaan "Belajar Dari Rumah atau disingkat BDR. 

Demikian juga secara umum aplikasi watshaap ini yang mampu digunakan oleh sebagaian besar wali murid yang akan menjadi guru bagi putra - putrinya di rumah.
Whatshap sebagai aplikasi yang digunakan di tempat saya bertugas semakin hari  anggotanya semakin banyak. Hampir seratus persen wali murid menjadi anggota watshap grup kelas pada tahap 4 BDR ini.   Dari jumlah anggota grup kelas yang hampir mencapai  seratus persen ini, saya bisa merekam beberapa chat anggota yang mengindikasikan bahwa pembelajaran jarak jauh dengan teknik daring (dalam jaringan ) ini mahal. Walaupun ini mungkin tidak untuk di tempat lain. Beberapa chat itu merupakan jawaban dari siswa kelas tinggi (4, 5,6) dan beberapa orang tua kelas awal (1,2,3) ketika ditanya oleh guru kelas"Mengapa telat mengirim tugas? Mengapa tidak mengirim tugas?

Jawaban mereka beragam. Jawaban yang  memperkaya istilah-istilah pada masa covid 19 ini. Jawaban mereka antara lain.
1. Ma.af Bu, dana kuota internet saya kalah  
    dengan Lombok Tengah (penghalusan kata
    perut lapar) jadi belum bisa mengirim tugas.
2. Ma.af Bu, saya telat mengirim tugas karena
    kuota internet saya sekarat.
3. Ma.af Bu, kuota internet saya lagi lock down
    jadi baru sekarang bisa kirim tugas.
4. Ma.af Pak, kouta internet saya ikuta kena
    corona, jadi baru sekarang mengirim tugas.

Masih ada beberapa chat wali murid di tempat saya bertugas yang menunjukkan bahwa BDR dengan model dalam jaringan memerlukan biaya.  Semakin banyak tugas diberikan, semakin banyak tugas yang harus dikumpulkan..semakin beragam tugas semakin beragam pula yang harus dikirim. Semakin banyak pula kuota internet yang harus disiapkan.Apakah mungkin karena saya adalah guru di desa dengan siswa yang sebagian besar berasal dari orang tuanya dengan ekonomi menengah ke bawah? Memiliki handphone android saja sudah merupakan suatu kesyukuran yang luar biasa. Sehingga mempertanyakan " Apakah Benar Pembelajaran Jarak Jauh Mahal?


Saya pernah menonton sebuah tayangan di youtube, yang meminta perkuliahan jarak jauh model daring dihentikan karena dinilai mahal dan merugikan mahasiswa. Ma.af saya lupa di chanel yuotube apa namamnya.
Intinya , yang saya tonton itu menjelaskan jika mahasiswa  sehari saya mengikuti perkuliahan jarak jauh  menghabiskan dana Rp 50.000 untuk membeli kuota internet, maka dalam satu minggu mahasiswa akan menghabiskan dana Rp 350.000.  oleh karena itu ia mengatakan pembelajaran atau perkuliahan seperti ini mahal dan minta dihentikan.

Memang BDR ini memerlukan biaya, tetapi apa boleh buat. Ini bukan pilihan tetapi keharusan. Untuk tidak memberatkan orang tua di tempat saya bertugas  mengurangi tugas untuk menonton youtube tentang pelajaran, tentang sekolahnya, mengurangi siswa membuat video dan lain lain tugas yang menyedot kuota internet yang banyak. Intinya bagaimana anak mampu menahan diri untuk tidak keluar rumah  dengan tugas  dari guru dan mengimplementasikan pendidikan karakter dalam kehidupannya.

Di tengah pelaksanaan pembelajaran yang terkesan mahal di tempat saya bertugas, merupakan suatu kewajiban tambahan guru yang berdiri di garda terdepan untuk memberikan wawasan, pandangan dan membangun kesadaran kepada wali murid bahwa pembelajaran ini memang harus dilakukan seperti ini. Cara aman untuk memutus penularan virus corona. 
Guru dan orang tua saat ini harus  bersama - sama berdiri di garda terdepan untuk mencegah terputusnya pendidikan bagi anak bangsa

Lombok, 12 Mei 2020
Edisi Membuat BDR tidak Mahal.

Monday, May 11, 2020

Good People On Covid 19

"Ketika Ditolak Keluarga"
Oleh Nuraini Ahwan

Hari Ahad pagi, 10 Mei 2020, saya menonton salah satu acara di sebuah stasiun atau chanel televisi swasta nasional. Acara yang mampu membuat  mata saya berkaca-kaca karena sedih bercampur bangga. Semacam talk show yang di komandoi oleh seorang host dengan ciri kepala plontos. Dulu beliau berambut kriting tulen. Biasa membawakan acara yang menampilkan sosok-sosok hebat yang selalu menginspirasi banyak orang. Mulai dari  seseorang yang bergerak di bidang pendidikan, dunia usaha, pemerhati  lingkungan, orang berkebutuhan khusus yang mandiri,  sampai kepada bidang kemanusiaan  yang didalamnya  bergerak orang-orang yang berhati tulus ikhlas. Sosok host yang saya maksud adalah Bapak Kick Andy.

Bapak kick Andy pada acara Ahad pagi membawakan acara "Good People". Acara yang beliau pandu tersebut dilangsungkan melalui komunikasi jarak jauh. Mengingat corona virus disease tidak memungkinkan beliau mengundang tamu ke studio. Kali ini Bapak Kick Andy mengambil topik perbincangan tentang tenaga medis yang ditolak pulang ke rumah oleh keluarga dan lingkungannya. Penolakan disebabkan karena tenaga medis ini merawat pasien covid 19.

Tamu jarak jauh beliau adalah salah satu orang baik.   Pemilik home stay "Aksara''  di Mojokerto.  Sosok yang masih muda , tampan dan berhati mulia menurut saya. Tak sekejap pun saya mengalihkan pandangan dari layar televisi dan terus saya pusatkan  pendengaran saya terhadap apa yang di tuturkan oleh Bapak Brilly Agung Zaki  (nama pemilik home stay "Aksara")

Beliau mengikhlaskan home stay miliknya di gunakan sebagai tempat menginap tenaga medis yang berdiri di garda terdepan penanganan pasien covid 19. Bahkan tenaga medis yang kesehariannya berada dalam ruang isolasi dengan pakaian  layaknya astronot.

Bapak Brilly menceritakan awal mula beliau menerima tenaga medis menginap di home stay miliknya yang berjumlah 24 kamar itu.
Malam Jum.at, beliau di telepon oleh temannya yang berprofesi sebagai tenaga medis dan merawat pasien covid 19. Ketika ia pulang ke rumah, ia di tolak oleh keluarga  dan  lingkungan di mana ia tinggal.  Ia tidak tahu harus kemana. Temannya itu sendiri sebenarnya khawatir juga kalau pulang ke rumah. Akhirnya Pak Brilly menawarkan penginapan yang ia miliki untuk tempat menginap temannya itu.

Karena home stay ini bukan miliknya sendiri, maka Pak Brilly menyampaikan kepada pemilik yang lain tentang keberaniannya memberikan tempat menginap bagi tenaga medis yang merawat pasien covid 19.  Niat baik  Pak Brilly  pun di sambut baik pula oleh teman temannya. Luar biasa pemilik home stay Aksara berhati baik semua. Sungguh sesuatu yang sangat menyejukkan. Di tengah-tengah kesulitan ekonomi, masih ada orang berhati baik seperti Bapak Brilly.

Persiapan kamar pun segera dilakukan oleh karyawan Pak Brilly.  Seluruh kebutuhan  tenaga medis yang menginap di sana gratis mulai dari makan layaknya tamu biasa.  Semula hanya  satu kamar saja yang di tempati, tetapi seiring dengan belum juga berkahirnya Covid-19 ini,  Pak Brilly menutup home staynya untuk umum. Seluruh kamar di penuhi tenaga medis. Kebetulan juga home stay  miliknya letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat mereka bekerja.

Ketika   Bapak Kick Andy bertanya,"Siapa yang menangung kebutuhan makan minum dan perlengkapan lainnya selama tenaga medis menginap?"
Dengan enteng Pak Brilly menjawab, "Seluruh keperluan selama mereka menginap di tanggung pihak home stay "Aksara"
Apakah anda orang kaya? tanya Pak Kick Andy.
Pak Brilly menuturkan bahwa beliau bukan orang kaya tetapi punya tabungan sedikit. Rupanya Pak Brilly merendah. Orang tua beliau seorang guru. Beliau ingin berbagi , membantu pemerintah menghadapi covid 19 ini.

Niat baik dan tulus ikhlasyikhlas diwujudkan lewat tindakan oleh Pak Brilly dan teman-teman sesama pemilik home stay, ternyata menjadi viral. Banyak dermawan yang membantu. Kebutuhan makan tenaga medis yang menginap kini bukan lagi menjadi tanggungan pihak home stay saja. Banyak dermawan yang mengantar makanan bahkan transfer dana tanpa diminta.
Allah SWT, membalas kebaikan dengan kebaikan yang berlipat ganda.

"Apakah anda  tidak khawatir home stay anda di cap sebagai home stay yang pernah di tempati oleh tenaga medis covid 19 sehingga kemungkinan nanti akan sepi penghuni?"tanya Kick Andy.
Pak Brilly tidak takut karena virus ini akan mati kalau di semprot disinfektan. Apalagi home stay miliiknya di semprot setiap hari. Begitu santai beliau menjawab pertanyaan host berkepala plontos dan selalu pandai menghargai karya orang lain ini. 

Bapak Kick Andy, tak lupa mengajak penonton mendengar testimoni dari tenaga medis yang menginap di home stay aksara. Terima kasih tak terhingga mereka sampaikan kepada Pak Brilly, yang telah berkenan menerima mereka ketika keluarga dan warga di sekitar tempat tinggalnya menolaknya untuk pulang. Bahkan ke rumah mereka sendiri.

Mendengar penuturan tenaga medis ini, alam pikiran saya yang meonton seakan dibawa ke rumah sakit di mana pasien covid 19 di rawat.
Saya menangis, membayangkan tenaga medis berpakaian berlapis lapis, seperti astronot, seperti jas hujan. Bagaimana panasnya?Bagaimana kalau keringatan? Di tengah capek, letih juga mungkin jenuh yang dirasakan lalu ketika ia pulang, keluarga dan warga menolak. Bagaimana sedihnya? Kerinduan pada keluarga akhirnya terus dipendam.

Beruntung ada orang baik yang peka dengan situasi ini.
Kebaikan Pak Brilly insyaallah dibalas Allah SWT dengan kebaikan yang berlipat ganda.
Semoga ada Brilly -Brilly yang lain dalam tindakan nyata. Saya hanya mampu membatu doa untuk kesehatan dan keselamatan para medis yang berdiri di garda terdepan menyelamatkan nyawa, saya akan berdiri di garda terdepan menyelamatkan pendidikan anak bangsa.
Mari bersatu melawan corona.

Lombok, 11 Mei 2020

Saturday, May 9, 2020

Pembelajaran Model Daring. Komitmen dan Kompetensi Guru (seri 8)

Oleh Nuraini


Ketentuan dalam pembatasan jumlah kerumunan orang, pengaturan jarak, cuci tangan  dan penggunaan masker saat ini menjadi perhatian semua pihak. Aturan tentang ini disampaikan kepada masyarakat melalui edaran pemerintah mulai dari tingkat pusat sampai ke tingkat  daerah bahkan sampai tingkat pemerintahan yang paling bawah (desa dan dusun). Ini dilakukan dalam rangka pemutusan penularan corona virus disease 19(covid 19)

Menindaklanjuti ketentuan tersebut, maka untuk membatasi jumlah kerumunan di tempat saya bertugas, diatur dengan ketentuan dalam satu hari, guru  piket  berjumlah 3 orang ditambah dengan  kepala sekolah. Sementara jika ada hal-hal yang akan dimusyawarahkan, sekolah menggunakan aplikasi zoom cloud meeting. 

Sementara itu,untuk pembelajaran dilaksanakan melalui pembelajaran jarak jauh (daring atau luring dan atau kombinasi keduanya).
Pembelajaran jarak jauh ini bukanlah  suatu pilihan melainkan suatu keharusan dalam sistuasi mewabahnya corona virus disease 19 ( covid 19 ) ini. Tinggal bagaimana terknik pelaksanaannya sehingga semua siswa dapat mengakses pelajaran yang diberikan guru. 

Pembelajaran jarak jauh model daring menuntut komitmen dan kompetensi guru dalam merancang , melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran yang  sudah dilaksanakan. 
Mengapa komitmen saya bahas dalam tulisan ini? 
Komitmen seorang guru sangat penting, mengingat  pelaksanaan pembelajaran daring yang sudah diperpanjang sampai 4 tahap ini, tampak ada kejenuhan yang menghinggapi guru. Kejenuhan karena harus memeriksa setumpuk tugas yang dikirim secara online. kejenuhan memikirkan teknik pembelajaran yang harus diberikan sehingga siswa tidak bosan. Kejenuhan dengan tuntutan laporan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan dengan seabrek administrasi. Memilah dan memilih bukti fisik yang akan dilampirkan dari grup wa. Dari jumlah yang tidak sedikit bukan dalam jumlah  2 digit ,  melainkan sudah sampai di digit 3 dan 4 dalam 4 tahap ini. 

Karena menjadi guru adalah panggilan hati nurani dan pengabdian untuk mendidik generasi penerus bangsa maka apapun kondisi yang terjadi seorang guru harus mempunyai  komitmen yang tinggi.  Ia harus tetap berdiri di garda terdepan untuk pendidikan. Ia harus tetap berada dalam pembelajaran  ini. Saat kejenuhan melanda  maka ia harus segera melawan rasa jenuh tersebut. Saat kejenuhan atau kebosanan melanda siswa, maka guru harus bisa menciptakan atau merancang  pembelajaran yang menarik. Artinya ia tidak boleh jenuh, tidak boleh menyerah, ia selalu berada di antara siswa-siswinya. 

Berada di tengah-tengah siswa dalam pembelajaran jarak jauh, tidak cukup hanya komitmen saja, tetapi perlu kompetensi yang memadai untuk pelaksanaan pembelajaran ini. Apalagi jika pembelajaran jarak jauh dilaksanakan dengan teknik daring. Maka seorang guru dituntut mampu mengoperasikan komputer dan mampu menggunakan beberapa aplikasi pembelajaran berbasis IT.

" Terhadap guru di tempat saya bertugas, kepala sekolah mengatakan, " jika saat ini kita tidak terus belajar menyesuaikan diri dengan teknik pembelajaran ini, maka kita akan ketinggalan. Pada saatnya nanti, ketika kita melihat orang lain mampu, kita hanya sebagai penonton. Di sanalah kita akan berkata, mengapa dulu saya tidak belajar?" 

Ketika diawal pemberlakuan belajar dari rumah ini dilaksanakan, mungkin kita berada pada tataran guru yang ketar ketir, kaget atau   kalang kabut. Tetapi membiarkan hal itu secara terus menerus tidaklah baik. Meningkatkan kemampuan diri mutlak dilaksanakan jika ingin pembelajaran jarak jauh model daring ini terlaksana dengan baik.

Sabtu, 9 Mei 2020, guru berupaya meningkatkan kemampuannya dalam penggunaan google formulir  untuk membuat soal online. Hari sabtu inilah saatnya guru bertemu di sekolah di penghujung jadwal piket yang sudah dilaksanakan (tetap jaga Jarak dan menggunakan masker).   Agenda kegiatan adalah untuk evaluasi pelaksanaan pembelajaran selama 1 minggu dilanjutkan dengan pembekalan tentang  penggunaan IT dalam pembelajaran jarak jauh. . 

Guru mempersiapkan  ulangan harian bersama secara online dengan menggunakan google formulir.  Semua kelas pada hari sabtu ini mengikuti ulangan online. Sebelum soal di kirm ke siswa, antara guru yang satu dengan guru yang lain saling kirim soal, saling uji coba, benar tidak cara mereka membuat soal digoogle formulir. Guru yang sudah memastikan soal yang disusunnya benar, langsung mengirim ke grup wa kelas . 


Ada keseruan yang saya lihat pada saat ini. Guru desa yang memetik hikmah dari covid 19. Hikmah berkenalan denga wa secara lebih mendalam, berkenalan dengan zoom, cloud meeting,  kinemaster, viva video, google formulir dan beberapa aplikasi lainnya. 
Tidak dalam hitungan jam. Soal sudah dijawab, dan siswa mengirim screnshoot hasil atau skor mereka. (entah siswa jawab sendiri atau dibantu orang tua). 


Model " Multilevel Daring Tanpa Laba" yang dilaksanakan di tempat kami rupanya belum terlaksana 100%. Ada  2  sampai 3 orang wali murid yang datang ke sekolah meminta soal yang diprint out. 
Beruntung guru-guru  sudah menyiapkan soal dalam bentuk print out.

Semoga bermanfaat. 
Mohon krisannya dari pembaca

Friday, May 8, 2020

Pembelajaran Jarak Jauh, Bagaimana Khabar Siswa Yang di Luar Jaringan? (Seri 7)

Oleh Nuraini

Prinsip pembelajaran yang tercantum pada Peraturan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah di antaranya  sebagai berikut:  dari peserta didik diberi tahu menjadi peserta didik mecari tahu; dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber        belajar; pembelajaran yang berlangsung di sekolah, di rumah dan di masyarakat; pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik dan di mana saja adalah kelas;. pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan  efisiensi dan efektifitas pembelajaran. 

Ada 4 point prinsip pembelajaran yang saya kutip dari 14 prinsip pembelajaran yang tercantum dalam Permendikbud  Nomor 22 tahun 2016 tersebut. Ke empat point ini seakan berbicara bahwa  prisnsip ini sangat sesuai atau tepat dilaksanakan sesuai dengan apa yang terjadi saat ini. Wabah corona virus disease 19 (covid19) mengharuskan siswa untuk meninggalkan rumah ke dua mereka (sekolah).  Rumah di mana   mereka  selama ini belajar secara tatap  muka langsung dengan guru mereka. 

Prinsip siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik, di mana saja adalah kelas, pada saat ini mau tidak mau harus diakui. Siswa belajar jarak jauh atau belajar dari rumah (Study At Home) dengan orang tua mereka sebagai guru. Mereka  tidak belajar di ruang kelas berbentuk persegi, dengan meja bangku berjejer rapi, papan tulis ada di depan kelas,  lemari dan rak buku berdiri di belakang atau di samping mereka. Tidak lagi ada bel berbunyi pertanda jam keluar bermain atau jam masuk kelas kembali. Tidak ada guru yang berdiri di depan mengabsen, memberi tugas langsung dan sebagainya.
tetapi mereka belajar bersama orang tua, dibimbing orang tua menyelsaikan tugas dari guru, diperiksa langsung hasilnya oleh orang tua sebelum di kirim ke guru mereka di tempat yang tidak seperti kelas mereka. Mereka bisa saja belajar sambil tengkurap, belajar di ruang tamu,belajar sambil nonton tv dan sebagainya. 




Prinsip pemanfaatan teknologi informasi  dan komunikasi untuk mempercepat efisiensidan efektifitas pembelajaran juga di masa wabah ini sangat dirasakan penting. Alternatif pemeblajaran jarak jauh dengan teknik dalam jaringan (daring) mempercepat diaksesnya pembelajaran  oleh siswa. Salah satu teknologi yang bisa digunakan adalah handphone /gawai android. Aplikasi paling sederhana yang boleh dikatakan semua kalangan bisa memanfaatkannya adalah watshapp atau wa. 

Media inilah yang digunakan di tempat tugas penulis dengan membuat whatshap grup kelas masing masing-masing. Anggota grup setiap kelas terdiri dari Kepala sekolah, guru kelas, guru mata pelajaran, dan wali murid. (siswa masih usia SD, di tempat penulis belum dibolehkanmemiliki hp sendiri). Masuknya kepala sekolah dalam grup dimaksudkan untuk memudahkan melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan pembelajaran daring ini. 

Persentase siswa yang orang tuanya memiliki handphone android memang tidak 100 persen di tempat penulis bertugas. Data awal sejak pemberlakuan pembelajaran dari rumah dilaksanakan, menunjukkkan bahwa siswa yang orang tuanya memiliki handphone android di bawah 50 % sehingga  guru sulit untuk memberikan tugas untuk semua siswa. Sementara yang bisa mengakses atau mengetahui tugas hanya siswa yang tergabung dalam grup. Sementara siswa yang tidak tergabung dalam grup hanya berbekal buku belajaran yang diberikan di awal pelaksanakan pembelajaran dari rumah ini.

Lalu bagaimama dengan siswa yang di luar jaringan? Siswa yang orang tuanya tidak memiliki handphone  android? 
Seiring dengan perpanjangan waktu belajar dari rumah yang sudah memasuki 2 tahap waktu itu, jumlah anggota dalam grup juga bertambah. Kesadaran wali murid akan pentingnya pendidikanputra-putrinya meningkat. Sehingga data terakhir,  orang tua yang tidak mamiliki handphone persentasenya sedikit. Dalam satu kelas berkisar 6 atau 8 orang. 

Melihat kenggotaan grup bertambah, maka khabar siswa yang orang tuanya tidak memilki handphone terjawab sudah. Jumlah yang sedikit ini akan mampu di tarik atau di dampingi oleh yang punya handphone. Sehingga mereka bisa mengakses semua tugas dari guru.   Sekolah bersama rekan guru mencoba mengimplemetasikan pendidikan karakter yang selama ini dilaksanakan. Dengan 5 nilai karakter utama di antaranya religiusitas, dan gotong royong. 

Orang tua atau siswa yang punya dan yang tidak punya hnadphone android sudah terdata  di wa grup. Kepala sekolah mengetahui perkembangan jumlah anggota. Dengan mudah kepala sekolah meminta guru memetakan tempat tinggal siswa yang orang tuanya tidak memiliki handphone. Pemetaan ini dimaksudkan untuk memudahkan melakukan penjaringan atau perekrutan mereka untuk bergabung bersama tetangga sekelasnya yang punya handphone.

Proses atau kegiatan ini tidak serta merta atau langsung dilaksanakan. Setelah pemetaan tempat tinggal selesai di buat guru.  Kepala Sekolah mengimformasikan kepada wali murid dalam grup, untuk berkenan menjadi inang atau induk dari teman sekelas anaknya yang tidak punya handphone dalam hal pengaksesan tugas.  Dengan bahasa yang menyentuh hati melalui chat di watshapp grup, kepala sekolah menyampaikan bahwa bagaimana caranya agar anak-anak semua memperoleh haknya untuk pendidikan. Pembelajaran jarak jauh seperti ini, entah sampai kapan akan berakhir. Di perpanjang terus sampai wabah ini benar-benar tidak ada.  Di sekitar tempat tinggal bapak dan ibu, ada teman sekelas putri-putra bapak yang tidak punya handphone. Bisakah kira-kira bapak berbagi informasi tentang tugas dari guru kepada mereka? (kepala sekolah menyebutkan nama siswa yang tidak punya hp). Bulan ini penuh berkah, mari berbagi, saling tolong menolong, semoga rizki bapak dan ibu dilancarkan Allah SWT. 

Sentuhan hati ini, membuat respon orang tua sangat bagus. Mereka dengan senang hati mengimformasikan setiap tugas yang diberikan guru bahkan sampai kepada pegiriman tugas. 

Teknik menjaring teman sekelasnya yang tidak punya handpohone android dan tempat tinggalnya tidak jauh dari rumahnya berangkat dari pemikiran bahwa dalam grup ada admin kelas dari masing-masing wilayah sumber siswa atau asal siswa. Mereka menjaring  anggota grup dari orang tua yang punya hp. Mengapa tidak bisa dikembangkan , jika yang punya handphone android juga menjaring teman sekelasnya yang tidak punya hp android?
Seperti multilevel, multilevel ini tidak seperti multilevel perbisnisan. Mencari rekan joint seluas-luasnya, sebanyak-banyaknya sampai bercabang-cabang. Mencari untung sebanyak-banyaknya.

Tetapi multilevel daring di sini dimaksudkan mencari anggota, teman sekelasnya, dekat rumahnya, tidak lebih dari 2 orang, tidak menarik untung atau bayaran ( untuk beli kuota internet) kecuali diberi tanpa meminta. Untungnya adalah semoga niat berbaginya mendapat balasan dari Allah SWT.

Kami menyebutnya "Multilevel Daring Tanpa Laba" 
Dengan teknik ini kami akhirnya mengetahui bagaimana khabar siswa kami yang awalnya mengikuti pembelajaran secara luring (luar jaringan). Inangnya atau yang punya handphone akan menginformasikan atau menulis chat di watshap bahwa ini tugasnya si ini.....(ditulis nama di bawah tugas jika dikirim dalam bentuk foto tugas)
Semoga teknik ini mampu mewujudkan bahwa pendidiikanuntuk semua, dan semua anak berhak mendapatkan pendidikan. jangan biarkan pendidikan anak-anak kita terhenti meskipun wabah masih melanda negeri kita.


Terima kasih, semoga bermanfaat
Mohon krisannya
Lombok Barat, 
Hp. 081805597038

Thursday, May 7, 2020

Pembelajaran Daring, Merasa Jenuh (Seri 6)

Oleh Nuraini

Cerita tentang pembelajaran jarak jauh di masa corona virus disease 19 ini, memang tak ada habis-habisnya. Mulai dari cerita awal pemberlakukan belajar jauh jauh yang disambut dengan ketar-ketir tenaga pendidik yang kurang memahami IT, siswa yang tidak memiliki handphone android, kuota internet yang sekarat, tingkat kemampuan ekonomi peserta didik untuk membeli  kuota internet, kemampuan pendidik dalam merancang  pembelajaran yang menarik, curhatan orang tua yang kurang mampu membimbing putra-putrinya dalam belajar akibat tidak paham materi, sampai kepada upaya sekolah menemukan cara agar siswa yang berada di luar jaringan dapat mengakses pelajaran. Bahkkan banyak lagi cerita dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh ini. 

Pembelajaran jarak jauh yang sudah dilaksanakan dalam beberapa minggu   menimbulkan berbagai perasaan.. Perasaan kangen, perasaan  rindu dan perasaan jenuh .  Kerinduan kepada siswa, kerinduan pada pembelajaran tatap muka langsung dan kerinduan pada suasana bersama teman-teman guru.  Perasaan ini tidak hanya dirasakan oleh guru, tetapi juga dirasakan oleh siswa. Kerinduan siswa dilihat berdasarkan hasil monitoring secara online yang dikirim sekolah untuk memantau pelaksanaan pembelajaran dari rumah (Study At Home) beberapa waktu yang lalu. Tidak hanya rindu, sebagian responden (siswa) menyatakan jenuh belajar dari rumah. 

Menurut saya,  perasaan itu wajar terjadi mengingat perpanjangan waktu belajar dari rumah sudah mencapai 4 kali perpanjangan waktu. Sebut saja pembelajaran dari rumah menggunakan istilah tahap. Sampai saat saya menulis ini, tahap pembelajaran dari rumah sudah mencapai 4 tahap. Tahap pertama dimulai 17 Maret - 28 Maret 2020. Tahap 2 di mulai dari tanggal 29 Maret sampai 11 April 2020 diperpanjang lagi sampai 13 April 2020. Tahap 3 dimulai tanggal 14 April  sampai 27 April 2020. dan tahap 4 dimulai tanggal 27 April sampai 13 Mei 2020. Sungguh waktu yang paling lama siswa belajar di rumah jika dibandingkan dengan libur sekolah yang pernah mereka alami sepanjang mereka sekolah. Dalam hal ini libur semester dan libur kenaikan kelas.

Perpanjangan waktu yang begitu lama sebagai dampak belum berakhirnya virus ini membuat kejenuhan dialami oleh siswa yang belajar dari rumah. Dilihat dari pantauan dalam grup whatshap kelas masing-masing tampak penambahan jumlah anggota grup yang hampir mencapai 75 persen bahkan ada yang mencapai 100 persen siswa atau wali murid tergabung dalam grup. Bertolak belakang dengan jumlah siswa atau wali murid yang mengirim tugas melalui watshApp. Jumlah  anggota bertambah, tetapi jumlah yang mengirim tugas berkurang. Apakah ini karena mereka jenuh sesuai dengan hasil monitoring?. Demikian juga dengan tugas yang dikirim guru, intensitas sudah menurun. Apakah guru juga merasa jenuh juga? 

Jenuh?
Bosan?
Penyebabnya perlu dicari. 
Apakah butuh suntikan dana kuota internet?
Apakah bosan dengan jenis tugas sesuai hasil monitoring?
Apakah variasi tugas yang perlu dipikirkan?
Apakah kemampuan pendidik terhadap rancangan pembelajaran jarak jauh?
Apakah perlu ditingkatkan konsistensi dan komitmen guru?
Solusi apa yang perlu dilakukan setelah menemukan penyebab perasaan jenuh dan bosan tersebut?

Semoga dalam tulisan seri berikutnya, saya bisa menjawab lewat tulisan penyebabnya khususnya di tempat tugas saya. 
Jangan lupa krisannya dari pembaca.

Lombok Barat, 7 April 2020
Nope. 081805597038
Email. ahwan.nuraini69@gmail,com



Tuesday, May 5, 2020

Menjadi Pemimpin (Imam) Dalam Keluarga Ya, Menjadi Imam Sholat Belum Tentu.


Oleh Nuraini

Kata imam identik dengan pemimpin. Dalam rumah tangga, suami adalah pemimpin dalam sebuah keluarga. Maka pemimpin atau imam dalam keluarga adalah suami (ayah)
Semua   suami adalah imam atau pemimpin keluarga, tetapi tidak semua suami  bisa menjadi imam dalam sholat.
Benarkah?

Tulisan ini berangkat dari kenyataan yang saya lihat di tempat tinggal saya. Waktu itu malam  pertama  bulan Ramadahan.


Tidak seperti biasanya, di kampung saya acara malam pertama Ramadhan di adakan rowah (bahasa daerah Sasak Lombok) yang artinya selamatan dengan membawa suguhan makanan menggunakan wadah nampan besar, lengkap makanan, lauk pauk dan buah).  Makanan itu di bawa oleh setiap kepala keluarga ke masjid. Lalu diadakan doa bersama dilanjutkan dengan menyantap makanan yang di bawa. Entah siapa yang punya. Yang penting makanan itu ada di depan kita. Tetapi karena pembatasan kegiatan kumpul-kumpul membuat acara rowah tersebut tidak bisa dilaksnakan di masjid
Warga kampung saya rupanya taat pada anjuran pemerintah untuk tidak berkumpul dalam jumlah tertentu.

Warga melaksanakan rowah atau selamat di halaman rumah masing masing dengan tetangganya saja (masih belum bisa sendiri 100%). Pemandangan menjadi menarik ketika saya melihat di beberapa halaman ada warga menggelar tikar, duduk bersama, berdoa dan makan bersama di halaman. Saling melambaikan tangan dan berujar"sudah mulai!"

Itu awal dari sesuatu yang berbeda di Ramadhan tahun ini di kampung. Selanjutnya dimulai dengan sholat isya, kegiatan tarawih di laksanakan di rumah masing -masing.
Inilah hal yang paling menyentuh hati saya saat itu.

Ketika saya dan keluarga akan melaksanakan sholat isya dilanjutkan dengan sholat tarawih, beberapa orang ibu dan suaminya datang. Mereka ingin ikut sholat tarawih.  Menurut mereka, ada beberapa tempat yang melaksanakan kegiatan tawarih. Namun sudah penuh. Kami pun mengizinkan mereka dan alas sholat akhirnya tergelar di halaman.

Dampak dari covid memang luar biasa..Ibadah di rumah, belajar dari rumah, bekerja dari rumah. Menuntut tangggung jawab dalam melaksanakan peran susungguhnya.

Seorang ibu membimbing putra-putrinya belajar,  mengerjakan tugas dinas dari rumah, jujur pada tanggung jawab kedinasan meskipun kerja di rumah, seorang suami bertanggung jawab terhadap napkah meskipun dalam suasana sulit seperti ini dan sekaligus  memimpin anggota keluarga dalam beribadah. Terutama bulan Ramadhan, terhadap kegiatan yang biasa kita lakukan berjamaah pada malam hari.
Sholat sunat tarawih.

"Sesungguhnya laki -laki adalah pemimpin bagi kaum wanita."
Dalam rumah tangga atau keluarga, laki-laki atau ayah adalah imam atau  pemimpin dalam keluarga. Ayah atau suami adalah kepala keluarga. Kita pasti setuju dengan  pernyataan itu.

Lalu apakah laki-laki yang menjadi pemmpin atau imam dalam keluarga sekaligus bisa memainkan perannya sebagai imam dalam sholat?
Jawabannya sebagian ada di bawah ini.  Jawaban ini hanya mewakili sedikit makmum rumah tangga.

Ibu-ibu tidak sholat berjamaah di rumah bersama suami melainkan bergabung dalam sholat berjamah di halaman tetangga. Bahkan mereka ikut berjamaah bersama suami dan anak mereka. 

Saya bertanya, kepada  tetangga saya.  Ia seorang ibu.
"Mengapa tidak tarawih di rumah saja.bu?"
Ia menjawab, "Suami saya tidak bisa menjadi imam."
Seorang bapak juga mengatakan bahwa ia tidak bisa menjadi imam sholat.
Saya sendiri tidak tahu sebabnya karena jika bertanya terlalu jauh, saya kira itu kurang tepat.

Seorang ibu juga bercerita pada saya bahwa kalau sholat berjamaah di rumahnya, ia tidak pernah diijinkan untuk menjadi makmum oleh suaminya. Suaminya hanya mau jadi imam jika yang menjadi makmum adalah anaknya yang masih usia SD dan SMP. Penyebabnya,  saya juga kurang tahu. Bertanya tentang penyebannya  sepertinya kurang tepat juga. 

Kemungkinan inilah penyebab sehingga ada beberapa kelompok kecil di kampung saya sebagai tempat pelaksanaan sholat tarawih. Suami belum mampu menjadi imam dalam keluarga tetapi ia belum mampu menjadi imam bagi keluarganya dalam sholat.
Tetapi bersyukur daripada tidak melaksanakan tarawih karena di rumah tidak ada imam sholat.

Ma.af pada pembaca, jika tulisan ini kurang tepat.
Mohon....krisannya.
Lombok, 5 April 2020
Nuraini

Kegiatan Akhir Tahun di SDN 1 Dasan Tereng

Beragam kegiatan yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan untuk mengakhiri masa pembelajaran setiap tahunnya. Kegiatan ini sepertinya merupa...